untitled
  • Hey Webmasters! Get a free website with holiday themes - Get it NOW!

Selamat atas

dibentuknya

Dompet Sosial

BA-depok

Silahkan

anda kirimkan

tulisan dan info

tentang Depok

Apa Khabar Depok..?


Depok = Singapura ?

Kalau dipikir-pikir, Depok tuh sudah kayak Singapura. Kotanya kecil tapi mall-nya buanyaaak. Yang beda daya belinya. Orang Depok ya daya
belinya cuma segitu-gitu aja.

Sabtu kemarin sempat menjadi saksi ramainya orang berduyun2 ke Giant.
Takjub ngeliat orang berduyun-duyun memborong mie instant
berkardus-kardus. (saya cuma membatin, ini kok kayak korban banjir
saja). Saking banyaknya orang, eskalator naiknya diatur hanya
mengangkat orang secara bertahap. Sampai ada seorang ibu tanya ke
petugas security, "Payah dah itu lip kok kagak muat semua !"

Di Indonesia, nggak bisa lihat lapangan kosong dikit langsung dibangun
mall. Di negara lain, malah ada mall yang diambrukin untuk dijadikan
taman kota atau lapangan olahraga. Hmm, indahnya kalau kita punya
ruang publik yang nyaman, dimana anak2 bisa dengan leluasa bermain dan
berlarian, sementara orang tuanya bisa dengan asyik gelar tiker,
leyeh-leyeh, sambil baca buku disampingnya.

(sundari).


'Inflasi' Mal vs Pasar Tradisional

Menyusuri jalan sepanjang Margonda di tahun 1987-an mungkin tak akan terbayangkan  jalan yang dulunya cuma satu ruas dibagi dua tersebut akan dijejali dengan berbagai macam Mal dan turunannya seperti sekarang ini.
 
'Sejarah' berdirinya mal di Margonda sendiri dimulai dengan berdirinya Italiano, sebuah supermarket cabang dari Cibinong. Lokasinya di lokasi Borobudur sekarang berdiri.
Di Italiano, antara lain dibuka toko Buku Graffiti .
 
Setelah itu berdiri lagi Gedung Hero Supermarket, lengkap dengan Mc Donaldnya. Mulai lah era 'mal' merasuki warga Depok. Konsep  belanja sambil jalan-jalan yang disajikan oleh Grup Hero ternyata diminati oleh sebagian warga .
 
Entah karena ramainya pengunjung Hero tersebut atau sebab yang lainnya,, tak lama kemudian berdirilah berturut-turut Depok Mal dan Plaza Depok.
 
Kalau kita mau mundur ke belakang lagi, yang pertama kali mendirikan supermarket ukuran besar di Depok adalah TARGET yang lokasinya pertamanya di ruko Depok Timur dan karena selalu ramai kemudian membangun gedung megah di Jalan Proklamasi Depok Timur. Sayang, seiring berdirinya mal-mal di Margonda, TARGET Depok pun akhirnya bangkrut dan 'bangkai'nya sekarang masih bisa dilihat di Jalan Proklamasi.
 
Tak lama setelah TARGET  ditutup, berdirilah SE (Super Ekonomi, Red) yang lokasinya di tempat sekarang TIP TOP berdiri. SE lumayan cukup membuat macet jalan tole Iskandar karena selalu dipenuhi pengunjung. Ketika kejadian huru hara Mei 1997, supermarket itu ikut menjadi korban penjarahan dan kemudian ditutup  lama, hingga akhirnya TIP TOP dibuka..
 
Nasib naas dialami oleh GORO. Setelah berganti-ganti investor, akhirnya ambruk juga, menyusul saudaranya yang di Kalibata , yang sudah lama ditutup karena kasus penjarahan Mei 1997 .
 
Kembali ke jalan Margonda, persaingan ketat antara Hero, Depok Mal serta  Plaza Depok terus berlangsung. Tetap tampaknya,  persaingan tersebut ternyata tidak membuat pengusaha retail lain mengurungkan niatnya untuk membuka cabang di Depok.
 
ITC dan Detos tercatat membangun dan menyelesaikan proyeknya dalam waktu yang hampir bersamaan. ITC ikut bertempur dengan mengusung Carefour, hypermart asal Perancis. DETOS (Depok Town Square) tidak mau ketinggalan dengan mengandalkan  Hypermart, hypermarket yang masih satu grup dengan Matahari sebagai 'maskot'nya.
 
Di pelosok Depok lainnya, GIANT sudah mendirikan cabang di lokasi eks Toko Mitra, di daerah Cimanggis. Berdiri juga tidak jauh dari sana Cimanggis Mal.
 
Di kawasan Depok Lama dan Sawangan, ALFA juga telah lama mendirikan cabangnya di jalan Dewi Sartika. Depok Town Centre juga tidak mau ketinggalan, mereka membuka 'mal'nya tersebut dengan target pasar warga Sawangan dan sekitarnya.
 
Hari ini (24/3), rencananya GIANT akan membuka usahanya di Margo City, lagi-lagi di Jalan Margonda. Setelah itu, CENTRO juga akan diresmikan menyusul akan beroperasinya Margo City tersebut.
 
Depok memang  bagaikan magnet kecil yang menarik perhatian para kalangan pengusaha retail raksasa dan turunannya. Kalau pembangunan mal dan hypermarket bisa begitu cepatnya dilakukan oelh pihak swasta, bagaimana pula kinerja pemerintah kota Depok dalam 'mengimbangi' laju inflasi Mal dan hypermarket di Depok?.
 
Kita tengok Pasar Kemiri yang lokasinya di dekat Stasiun Depok Baru. Dari jaman dulu sampai sekarang kondisinya masih belum banya berubah. Jalan becek kala hujan dan kios-kios yang bertataletak semerawut selalu menyambut kita tiap kali ingin masuk ke sana. Tumpukan sampah yang menggunung juga setia menyapa kita.
 
Pasar Musi Depok Timur, kondisinya juga tidak jauh beda. Beruntung, jalan masuk dari jalan Musi sekarang sudah diperbaiki dan tidak banjir lagi.
 
Pasar  Agung yang berlokasi di Jalan Proklamasi Depok II juga sekarang sudah selesai direnovasi walaupun kondisi jalannya masih sering becek dan berlubang.
 
Pasar Depok Jaya di Depok I juga relatif jauh lebih bagus lagi, walaupun untuk 'diadu' kenyamanannya dengan Mal tetap KO.
 
Semoga, maraknya mal dan hypermarket yang terus tumbuh berdiri di Kota Depok ini bisa dijadikan inspirasi dan semangat bagi Pemkot dalam menata pasar-pasar tradisional menjadi ebih nyaman, asri dan ramai dikunjungi para pembei tanpa harus takut dengan yang kotor-kotor, apa pun bentuknya kekotoran tersebut.
 
(nc)
 


This Website Built and Hosted for Free at Bravenet.com

Web Hosting · Blog · Guestbooks · Message Forums · Mailing Lists
Allwebco Web Templates · Build your own toolbar · Free Talking Character · Audio, Fonts, Clipart
powered by a free webtools company bravenet.com