untitled
  • Hey Webmasters! Get a free website with holiday themes - Get it NOW!

Yang mau kirim-kirim artikel,

silahkan kirim ke

 informasi@depok-online.com

 

Kumpulan Artikel Balita

GONDONGAN (mumps)
 
 Dari www.mayoclinic.com yang mungkin bisa jadi tambahan info untuk pertanyaan-pertanyaan tentang penyakit ini.

Intinya, untuk mencegah penyakit gondongan, sebetulnya sudah ada vaksin yang tersedia, yaitu vaksin MMR (mumps, measles, rubella), yang dosis pertamanya bisa diberikan pada anak saat usianya 12 - 15 bulan.

Pengobatan gondongan?  Sama halnya dengan penyakit lain akibat infeksi virus, the best treatment adalah waktu, istirahat, asupan nutrisi bergizi dan banyak minum.  Pasti nggak mudah, karena saat menderita gondongan anak akan sulit untuk menelan, bicara atau mengunyah.  Di artikel tsb. dianjurkan untuk menghindari jenis jus atau makanan asam agar produksi ludah tidak semakin banyak dan membuat anak sakit karena harus sering menelan.

Tidak ada obat yang bisa menyembuhkan atau mempercepat kesembuhan anak dari gondongan.  Jika memang gondongan ini disertai demam tinggi, obat penurun panas bisa diberikan agar suhu tubuh tidak menjadi lebih tinggi dan anak jadi nyaman.  Dari info lain yang pernah saya baca, pengobatan tradisional dengan menggunakan larutan biru belau/blau (spell??) belum ada penjelasan tentang mekanisme kerja zat tsb. walau ada beberapa kasus 'sembuh' dengan cara ini.  Kemungkinan besar, pengobatan ini semacam efek placebo, bukan karena zat tsb. tapi memang gondongannya sendiri yang sudah waktunya sembuh (note: penyakit karena infeksi virus bersifat self-limiting disease alias akan sembuh dengan sendirinya seiring menguatnya daya tahan tubuh - contohnya:   sakit flu/batuk yang 'sembuh' setelah minum antibiotik, padahal memang sudah waktunya sembuh dari virus flu/batuk dan antibiotiknya tidak 'membasmi' apa-apa dalam tubuh bahkan malah berefek merugikan).

Penularan gondongan bisa terjadi dari kontak langsung dengan penderita (mis. percikan ludah penderita saat batuk/bersin/berbicara, alat makan yang digunakan bersama-sama, dll.).  Seperti ciri khas infeksi virus lain, masa penularan itu bisa berlangsung dari penderita yang bahkan belum menunjukkan gejala gondongan dan bisa terus berlangsung hingga beberapa waktu setelah penderita 'sembuh' dari gondongan.  Itu sebabnya, kadang anak tiba-tiba kena 'gondongan' tanpa tahu pasti kapan tertularnya.

Jika memang anak sudah terserang gondongan, yang bisa dilakukan orang tua adalah observasi ketat dan waspada dengan komplikasi gondongan yang bisa menyerang anak laki-laki (orchitis yang menyerang testikel anak dan bisa berakibat kemandulan) dan anak perempuan (gangguan pada indung telurnya), juga resiko hilang pendengaran dan meningitis (radang otak). 

Itu sebabnya cara paling aman dan nyaman untuk terhindar dari problem gondongan adalah dengan tindakan pencegahan alias imunisasi MMR tepat waktu
 

http://www.kompas.co.id/

Telapak Tangan Bukan Termometer!
Menempelkan telapak tangan ke dahi di Buyung atau si Upik bukan cara tepat
untuk menggolongkan suhu badannya panas, normal, atau dingin.

Naiknya suhu tubuh bukan serta merta petunjuk ia harus diminumi obat turun
panas. Dr. Paul Zakaria daGomez, ahli imunologi,  menguraikan duduk
persoalannya, termasuk kapan obat turun panas diperlukan.

Setiap hari televisi menyuguhkan pelbagai macam iklan obat penurun panas.
Semuanya mengklaim serba cespleng! Orang tua mana yang tidak cemas kalau
anaknya menderita panas? Nomor satu pasti buru-buru mencari obat penurun
panas, entah dari lemari obatnya sendiri, beli di warung, atau minta
tetangga.

Setiap kali anak kita tidak enak badan, pasti gerakan refleks kita
langsung menempelkan tangan ke dahi atau lehernya. Tapi telapak tangan
sebagai alat pengukur panas sebenarnya bersifat sangat subyektif. Artinya,
ia tidak dapat digunakan sebagai patokan untuk menggolongkan apakah suhu
seseorang panas, normal, atau dingin.

Seseorang dengan metabolisme tubuh rendah atau menderita anemia di mana
suhu tangannya lebih dingin, akan lebih peka bila meraba seseorang yang
suhu tubuhnya tinggi dibandingkan dengan mereka yang metabolisme tubuhnya
normal dan suhu tangannya lebih hangat. Karena tingkat metabolisme dan
mekanisme sirkulasi darah tiap individu bervariasi, sudah tentu mengukur
suhu badan seseorang dengan punggung telapak tangan tidaklah tepat.

Karena itu setiap keluarga hendaknya menyediakan termometer air raksa yang
harganya relatif murah. Alat pengukur panas ini lebih bisa diandalkan.
Dalam keadaan sangat mendesak data tersebut bahkan bisa langsung
dikonsultasikan ke dokter lewat telepon.

Mekanisme kekebalan

Suhu rata-rata tubuh normal dan sehat seseorang menurut beberapa peneliti
barat seperti Becquerel dan Berscher (1835) dan Wunderlich (1868), adalah
37 derajat C.
Suhu tubuh normal seseorang sesungguhnya bervariasi tergantung pada waktu
pengukuran (pagi, siang atau malam), tempat pengukuran (dalam rongga
mulut, di ketiak, atau dalam dubur), faktor usia serta tingkat metabolisme
(sebelum atau sesudah makan, sebelum atau setelah melakukan aktivitas
fisik). Pengukuran suhu dengan termometer lewat rongga mulut atau dubur
akan lebih tepat daripada lewat ketiak.

Suhu tubuh paling rendah pada pagi hari (pukul 5.00 - 6.00) dan paling
tinggi senja hingga malam hari. Perbedaan antara suhu terendah dan
tertinggi bervariasi, sekitar 0,3 C-1,5 C. Semula perbedaan itu diduga
hanya karena perbedaan cuaca, suhu serta kelembapan saja, ternyata juga
karena faktor irama diurnal (saat tidur dan melek) yang berkembang sejak
usia 1 - 2 tahun dan berlangsung terus seumur hidup.

Suhu tubuh rata-rata orang dewasa di bawah 37 C. Seorang peneliti, Horvath
SM dkk. pernah meneliti 54 orang dewasa muda (usia 23 tahun) selama
beberapa bulan dengan kesimpulan, nilai rata-rata suhu rongga mulut pada
pagi hari 36,5 C dan malam hari 36,8 C.

Peneliti lain, Dinarello dan Wolff dari Inggris melaporkan, hasil
penelitian pada sembilan orang dewasa mudah (22 tahun), dalam seharinya
rata-rata suhu badan mereka 36,6 C dengan nilai terendah 36,4 C dan
tertinggi 36,8 C. Suhu rata-rata rongga mulut orang tua lebih rendah
daripada orang muda, tetapi suhu duburnya sama.

Padahal suhu anus biasanya lebih tinggi daripada suhu rongga mulut.
Perbedaan ini sangat bervariasi. Pada orang muda, suhu lubang keluaran itu
rata-rata 0,56 C lebih tinggi daripada suhu rongga mulut.

Pada anak usia kurang dari 12 tahun, suhu tubuh waktu malam hari sering
lebih tinggi, rata-rata 37,4 C. Sebagai pedoman kasar, suhu tubuh anak
yang tidak melebihi 38 C (antara 36 C - 38 C) tidak perlu dirisaukan
karena belum merupakan indikasi untuk diberi obat penurun panas. Karena
sebenarnya suhu yang agak panas malah diperlukan untuk pertumbuhan dan
sebagai salah satu mekanisme untuk mempertahankan tubuh dari serangan
infeksi atau masuknya benda asing ke dalam tubuh.

Hal ini pernah dikemukakan oleh seorang ahli imunologi - infeksi dari
Belanda, van den Meer. Kemudian, ia mengingatkan hendaknya pemakaian obat
penurun panas terlalu dini berarti tidak memberikan kesempatan pada tubuh
untuk melaksanakan fungsi mekanisme pertahanan tubuh (kekebalan). Kalau
jamur yang sedang tumbuh (misalnya pada oncom dan tempe) menghasilkan
panas dan membutuhkan kalori, demikian pula manusia. Tumbuh kembang anak
lebih pesat daripada orang dewasa sehingga secara otomatis menghasilkan
panas lebih banyak pula.

Menurunkan panas tanpa obat

Untuk mengatasi demam, lebih baik mengusahakan dulu dengan menyeka seluruh
permukaan tubuh beberapa kali (terutama sewaktu suhu tubuh meningkat)
dengan handuk kecil dibasahi air hangat.
Tindakan ini akan melancarkan sirkulasi darah dan membuka pori-pori kulit
sehingga memberikan kesempatan panas keluar dari tubuh ke lingkungan
sekitarnya. Ruang ventilasi yang baik di mana udara berlangsung secara
teratur atau kamar ber- AC, sangat dianjurkan untuk merawat penderita
demam.

Pakaian yang sudah basah karena keringat hendaknya segera diganti dengan
yang kering. Sebaiknya dari katun yang lebih mengisap keringat, bukan yang
sintetis. Bila usaha ini tidak berhasil dan suhu badan mencapai 38 C,
barulah penderita diberi obat penurun panas (anti- piretika). Dosis obat
penurun panas jenis asetaminofen, yang umum dijual di warung atau apotek
seperti Tempra, Panadol, Parasetamol, dll adalah 10 mg/kg berat badan/hari
dibagi 3 dosis (diminum 3 kali sehari).

Bila sudah diberi obat penurun panas dua kali tetapi suhu badan tetap
belum turun juga, berkonsultasilah ke dokter. Mungkin demam yang diderita
bisa karena infeksi bakteri yang agak berat yang tidak bisa mengandalkan
mekanisme kekebalan tubuh atau obat penurun panas saja, tapi memerlukan
obat antibiotika. Biarlah dokter yang menentukan pemilihan obatnya.
(intisari)

Autisme

DEFINISI
Autisme adalah suatu gangguan perkembangan yang
kompleks, yang biasanya muncul pada usia 1-3 tahun.

Tanda-tanda autisme biasanya muncul pada tahun pertama
dan selalu sebelum anak berusia 3 tahun.Autisme 2-4
kali lebih sering ditemukan pada anak laki-laki.

PENYEBAB
Penyebab yang pasti dari autisme tidak diketahui, yang
pasti hal ini bukan disebabkan
oleh pola asuh yang salah.Penelitian terbaru
menitikberatkan pada kelainan biologis dan neurologis
di otak, termasuk ketidakseimbangan biokimia, faktor
genetik dan gangguan
kekebalan.

Beberapa kasus mungkin berhubungan dengan:
- Infeksi virus (rubella kongenital atau cytomegalic
inclusion disease)
- Fenilketonuria (suatu kekurangan enzim yang sifatnya
diturunkan)
- Sindroma X yang rapuh (kelainan kromosom).

GEJALA
Penderita autisme klasik memiliki 3 gejala:
gangguan interaksi sosial
hambatan dalam komunikasi verbal dan non-verbal
kegiatan dan minat yang aneh atau sangat terbatas.

Sifat-sifat lainnya yang biasa ditemukan pada anak
autis:
Sulit bergabung dengan anak-anak yang lain
Tertawa atau cekikikan tidak pada tempatnya
Menghindari kontak mata atau hanya sedikit melakukan
kontak mata
Menunjukkan ketidakpekaan terhadap nyeri
Lebih senang menyendiri, menarik diri dari pergaulan,
tidak membentuk hubungan pribadi
yang terbuka
Jarang memainkan permainan khayalan
Memutar benda
Terpaku pada benda tertentu, sangat tergantung kepada
benda yang sudah dikenalnya
dengan baik
Secara fisik terlalu aktif atau sama sekali kurang
aktif
Tidak memberikan respon terhadap cara pengajaran yang
normal
Tertarik pada hal-hal yang serupa, tidak mau
menerima/mengalami perubahan
Tidak takut akan bahaya
Terpaku pada permainan yang ganjil
Ekolalia (mengulang kata-kata atau suku kata)
Tidak mau dipeluk
Tidak memberikan respon terhadap kata-kata, bersikap
seolah-olah tuli
Mengalami kesulitan dalam mengungkapkan kebutuhannya
melalui kata-kata, lebih senang
meminta melalui isyarat tangan atau menunjuk
Jengkel/kesal membabi buta, tampak sangat rusuh untuk
alasan yang tidak jelas
Melakukan gerakan dan ritual tertentu secara berulang
(misalnya bergoyang-goyang atau
mengepak-ngepakkan lengannya)
Anak autis mengalami keterlambatan berbicara, mungkin
menggunakan bahasa dengan cara yang aneh atau tidak
mampu bahkan tidak mau berbicara sama sekali. Jika
seseorang berbicara dengannya, dia akan sulit memahami
apa yang dikatakan kepadanya.
Anak autis tidak mau menggunakan kata ganti yang
normal (terutama menyebut dirinya sebagai kamu, bukan
sebagai saya).
Pada beberapa kasus mungkin ditemukan perilaku agresif
atau melukai diri sendiri.
Kemampuan motorik kasar/halusnya ganjil (tidak ingin
menendang bola tetapi dapat
menyusun balok).

Gejala-gejala tersebut bervariasi, bisa ringan maupun
berat. Selain itu, perilaku anak
autis biasanya berlawanan dengan berbagai keadaan yang
terjadi dan tidak sesuai dengan usianya.


DIAGNOSA
Autisme tidak dapat langsung diketahui pada saat anak
lahir atau pada skrining
prenatal (tes penyaringan yang dilakukan ketika anak
masih berada dalamkandungan).
Tidak ada tes medis untuk mendiagnosis autisme.
Suatu diagnosis yang akurat harus berdasarkan kepada
hasil pengamatan terhadap
kemampuan berkomunikasi, perilaku dan tingkat
perkembangan anak.

Karakteristik dari kelainan ini beragam, maka
sebaiknya anak dievaluasi oleh suatu tim
multidisipliner yang terdiri dari ahli saraf, psikolog
anak-anak,ahli perkembangan anak-anak, terapis bahasa
dan ahli lainnya yang berpengalaman di bidang autisme.
Pengamatan singkat dalam satu kali pertemuan tidak
dapat menampilkan gambaran
kemampuan dan perilaku anak. Masukan dari orang tua
dan riwayat perkembangan anak merupakan komponen yang
sangat penting dalam menegakkan diagnosis yang akurat.

PENGOBATAN
Orang tua memainkan peran yang sangat penting dalam
membantu perkembangan anak.
Seperti anak-anak yang lainnya, anak autis terutama
belajar melalui permainan.
Bergabunglah dengan anak ketika dia sedang bermain,
tariklah anak dari perilaku dan ritualnya yang sering
diulang-ulang, dan tuntunlah mereka menuju kegiatan
yang lebih beragam. Misalnya, orang tua mengajak anak
mengitarikamarnya, kemudian tuntun mereka ke ruang
yang lain. Orang tua perlu memasuki dunia mereka untuk
membantu mereka masuk ke dunia luar.

Kata-kata pujian karena telah menyelesaikan tugasnya
dengan baik, kadang tidak berarti
apa-apa bagi anak autis. Temukan cara lain untuk
mendorong perilaku yang baik dan untuk mengangkat
harga dirinya. Misalnya berikan waktu lebih untuk
bermain dengan mainan kesukaannya jika anak telah
menyelesaikan tugasnya dengan baik.

Anak autis belajar lebih baik jika informasi
disampaikan secara visual (melalui gambar) dan verbal
(melalui kata-kata). Masukkan komunikasi augmentatif
ke dalam kegiatan rutin sehari-hari dengan
menggabungkan kata-kata dan foto, lambang atau syarat
tangan untuk membantu anak mengutarakan kebutuhan,
perasaandan gagasannya.

Tujuan dari pengobatan adalah membuat anak autis
berbicara. Tetapi sebagian anak autis
tidak dapat bermain dengan baik, padahal anak-anak
mempelajarikata-kata baru melalui permainan. Sebaiknya
orang tua tetap berbicara kepada anak autis, sambil
menggunakan semua alat komunikasi dengan mereka,
apakahberupa isyarat tangan, gambar, foto, lambang,
bahasa tubuh maupun teknologi.
Jadwal kegiatan sehari-hari, makanan dan aktivitas
favorit, serta teman dan anggota
keluarga lainnya bisa menjadi bagian dari sistem
gambar dan membantu anak untuk berkomunikasi dengan
dunia di sekitarnya.

Program intervensi dini
Hal terpenting yang bisa dilakukan oleh orang tua
adalah menemukan program intervensi
dini yang baik bagi anak autis.
Tujuan pertama adalah menembus tembok penghalang
interaksi sosial anak dan
menitikberatkan komunikasi dengan orang lain melalui
cara menunjuk jari,mengguanakan gambar dan kadang
bahasa isyarat serta kata-kata.
Program intervensi dini menawarkan pelayanan
pendidikan dan pengobatan untuk anak-anak berusia
dibawah 3 tahun yang telah didiagnosis
mengalamiketidakmampuan fisik atau kognitif.
Program intervensi dini terdiri dari:
- Terapi fisik dan terapi okupasional (pengobatan
dengan memberikan pekerjaan/kegiatan
tertentu)
- Terapi wicara dan bahasa
- Pendidikan masa kanak-kanak dini
- Perangsangan sensorik.
Program intervensi dini akan membantu orang tua dan
anak autis pindah dari intervensi
dini ke dalam sistem sekolah umum.
Program ini juga akan membantu memilihkan lingkungan
yang paling tepat untuk
pendidikan anak autis, apakah di sekolah biasa atau di
kelas khusus anak austik
yang menawarkan pendidikan dan pelayanan pengobatan
yang lebih intensif dengan jumlah
murid yang terbatas.

Program pendidikan untuk anak autis sangat
terstruktur, menitikberatkan kepada
kemampuan berkomunikasi dan sosialisasi serta teknik
pengelolaan perilaku
positif.Strategi yang digunakan di dalam kelas
sebaiknya juga diterapkan di rumah sehingga
anak memiliki lingkungan fisik dan sosial yang tidak
terlalu berbeda.

Dukungan pendidikan seperti terapi wicara, terapi
okupasional dan terapi fisik
merupakan bagian dari pendidikan di sekolah anak
autis.
Keterampilan lainnya, seperti memasak, berbelanja atau
menyebrang jalan, akan
dimasukkan ke dalam rencana pendidikan individual
untuk meningkatkan
kemandirian anak.
Tujuan keseluruhan untuk anak adalah membangun
kemampuan sosial dan berkomunikasi
sampai ke tingkat tertinggi atau membangun potensinya
yang tertinggi.

Tidak mudah menerima kenyataan bahwa anak anda adalah
seorang autis. Orang tua
seringkali mengalami tahapan emosional berupa duka,
menyangkal, marah,depresi dan menerima. Konsultasi
dengan ahli dapat membantu keluarga menerima diagnosis
ini, melangkah ke depan dan mencari jalan terbaik
untuk membantuanak mencapai potensinya yang tertinggi.

Pada masa remaja, beberapa perilaku agresif bisa
semakin sulit dihadapi dan sering
menimbulkan depresi. Kadang obat-obatan bisa membantu
meskipun tidakdapat menghilangkan penyebabnya.
Haloperidol terutama digunakan untuk mengendalikan
perilaku yang sangat agresif dan
membahayakan diri sendiri.
Fenfluramin, buspiron, risperidon dan penghambat
reuptake serotonin selektif
(fluoksetin, paroksetin dan sertralin) digunakan untuk
mengatasi berbagai
gejala dan perilaku pada anak autis.

Beberapa anak autis tumbuh dan menjalani hidup yang
mandiri. Yang lainnya selalu
membutuhkan dukungan dari lingkungan tempat tinggal
dan tempatnya bekerja.
Banyak ahli yang berpendapat bahwa masa depan anak
autis sangat tergantung kepada
besarnya kemampuan berbahasa yang dicapai oleh anak
ketika berusia 7
tahun.


THE YELLOW BABY (Bayi Kuning)
Dr. Elías Jiménez F.
http://www.diagnostico.com/Pediatrics/Symptoms/jaundice.stm

The color of the newborn is extremely important in order to determine his health condition.

Usually, at the time of birth, the baby's color is purple
(cyanotic), and after a few seconds of breathing room
temperature air, his color changes to pink. His hand and
feet will remain purple, since the blood circulation in
those places is slower.

The baby will have the pink appearance during his first days,
it will become less intense as time goes by, since his
hemoglobin, which is very high at birth, begins to go down
until it reaches the level that the child needs. As the
hemoglobin destroys itself or degrades it converts into
bilirubin, and this pigment is transformed and eliminated by
the liver, most of it through the digestive tube. When
excess bilirubin is accumulated, the skin turns yellow, and
this is known as Jaundice or Icterus.

High levels of bilirubin can injure the child's nervous
system and cause serious and permanent injuries. The
principal causes for increase levels are:

   1. More hemoglobin than the necessary is destroyed, this
      happens when the mother and the baby have different
      blood types.

   2. The liver is not functioning well, this might happen
      to premature children due to this organ immaturity, or
      as an effect of the maternal milk.

   3. Because the bilirubin can't be eliminated through the
      digestive tube.

A baby who turns yellow should be considered as an emergency,
and the pediatrician must determine each case. There are
some signs that may alert parents and have to be watched
for; these are:

   1. Presence of Jaundice in the first 72 hours of life.
      Usually this is caused by the excessive destruction of
      red blood cells and with them the hemoglobin, due to
      blood incompatibility between mother and son.

   2. Jaundice accompanied of lethargy, lack of activity and
      of appetite.

   3. Presence of fever or very low temperature.

   4. Low birth weight, because premature children are more
      prone to the toxic effects or the bilirubin.

   5. The skin coloration is very yellow or orange.

According to the doctor's criteria, one can go to a lab, to
find both the cause of the Jaundice and to determine the
level of bilirubin found in the blood. The treatment will
depend on the moment that the problem appears, the child's
condition and the cause and the level of bilirubin.

The treatment can be very simple, as increasing the amount
of fluid intake and eliminating the intake of maternal milk;
or putting the child under phototherapy, special lamps that
facilitate the bilirubin found in the skin to transform and
eliminate easily. The sun has a similar effect, but with the
inconvenience that it can only be received a few hours a day.
In the worst cases, when the levels of bilirubin in the
blood are higher than 20 mg/dL, a blood exchange has to be
carried the child's blood is changed through the umbilical
vein.

Like in many other cases, the most important thing is to
prevent this situation by giving an on time diagnosis and
applying treatment in the right moment. In this way we
prevent a simple problem becoming a complicated one


ANTIBIOTIK DAN KEKEBALAN TUBUH PADA ANAK

Sumber : Kompas
Minggu, 10 April 2005

ULASAN mengenai perlunya mewaspadai penggunaan antibiotik secara tidak
rasional sudah sering dibahas.
Akan tetapi, bagaimanapun, "kampanye" memerangi penggunaan antibiotik secara
irasional itu masih kalah marak dibandingkan dengan kenyataan yang terjadi
di lapangan.

Anak-anak termasuk bayi adalah golongan usia yang secara tidak langsung
kerap menjadi obyek "ceruk pasar" dari berbagai produk antibiotik yang
diresepkan dokter.
Hingga hari ini pun sebagian dokter masih kerap menunjukkan sikap
ketidaksukaan jika menghadapi pasien cerewet alias kritis. Masih banyak pula
pasien-yang notabene konsumen medis-segan banyak bertanya kepada dokter, dan
memilih manggut-manggut saja jika diberi obat apa pun oleh dokter.

"Sebenarnya kan lucu jika kita tidak tahu apa sebenarnya yang kita bayar.
Terlebih yang kita bayar itu untuk dikonsumsi oleh anak kita yang merupakan
amanat Tuhan. Ketidaktahuan ini sering kali dibiarkan oleh kalangan medis,
malah kerap dimanfaatkan," ujar dr Purnamawati S Pujiarto, SpAK, MMPed, yang
aktif mengedukasi para orangtua dalam mengonsumsi produk dan jasa medis,
termasuk melalui milis (mailing list).

Seperti dipaparkan Purnamawati, antibiotik berasal dari kata anti dan bios
(hidup, kehidupan). Dengan demikian, antibiotik merupakan suatu zat yang
bisa membunuh atau melemahkan suatu makhluk hidup, yaitu mikro-organisme
(jasad renik) seperti bakteri, parasit, atau jamur. Antibiotik tidak dapat
membunuh virus sebab virus memang bukan "barang" hidup. Ia tidak dapat
berkembang biak secara mandiri dan membutuhkan materi genetik dari sel
pejamu, misalnya sel tubuh manusia, untuk berkembang biak.

Sementara masih kerap terjadi, dokter dengan mudahnya meresepkan antibiotik
untuk bayi dan balita yang hanya sakit flu karena virus. Memang gejala yang
menyertai flu kadang membuat orangtua panik, seperti demam, batuk, pilek.
antibiotik yang dianggap sebagai "obat dewa". Pasien irasional seperti ini
seperti menuntut dokter menjadi tukang sihir. Padahal, antibiotik tidak
mempercepat, apalagi melumpuhkan, virus flu.

"Orangtua sebagai yang dititipi anak oleh Tuhan harusnya tak segan-segan
bertanya sama dokter. Apakah anaknya benar-benar butuh antibiotik? Bukankah
penyebabnya virus? Tanyakan itu kepada dokter," kata Purnamawati tegas.
Namun, kadangkala menghadapi orangtua yang bersikap kritis, sebagian dokter
beralasan antibiotik harus diberikan mengingat stamina tubuh anak sedang
turun karena flu. Jika tidak diberi antibiotik, hal itu akan memberi peluang
virus dan kuman lain menyerang.

Mengenai hal itu, Purnamawati menanggapi, "Sejak lahir kita sudah dibekali
dengan sistem imunitas yang canggih. Ketika diserang penyakit infeksi,
sistem imunitas tubuh terpicu untuk lebih giat lagi. Infeksi karena virus
hanya bisa diatasi dengan meningkatkan sistem imunitas tubuh dengan makan
baik dan istirahat cukup, serta diberi obat penurun panas jika suhunya di
atas 38,5 derajat Celsius. Jadi, bukan diberi antibiotik. Kecuali kalau kita
punya gangguan sistem imun seperti terserang HIV. Flu akan sembuh dengan
sendirinya,
antibiotik hanya memberi efek plasebo (bohongan)."

Hal senada juga secara tegas dikatakan farmakolog Prof dr Iwan Darmansjah,
SpFk. "Antibiotik yang diberi tidak seharusnya kepada anak malah merusak
sistem kekebalan tubuhnya. Yang terjadi anak malah turun imunitasnya, lalu
sakit lagi. Lalu jika dikasih antibiotik lagi, imunitas turun lagi dan sakit
lagi. Terus begitu, dan kunjungan ke dokter makin sering karena anak tambah
mudah sakit," ujar Iwan.

PURNAMAWATI menggarisbawahi, antibiotik baru dibutuhkan anak ketika
terserang infeksi yang disebabkan bakteri.

Contoh penyakit akibat infeksi bakteri adalah sebagian infeksi telinga,
infeksi sinus berat, radang tenggorokan akibat infeksi kuman
streptokokus,infeksi saluran kemih, tifus, tuberkulosis, dan diare akibat
amoeba hystolytica.
Namun jika antibiotik digunakan untuk infeksi yang nonbakteri, hal itu malah
menyebabkan berkembang biaknya bakteri yang resisten.

"Perlu diingat juga, untuk radang tenggorokan pada bayi, penelitian
membuktikan 80-90 persen bukan karena infeksi bakteri streptokokus, jadi
tidak perlu antibiotik. Radang karena infeksi streptokokus hampir tidak
pernah terjadi pada usia di bawah dua tahun, bahkan jarang hingga di bawah
empat tahun," kata Purnamawati.

Beberapa keadaan yang perlu diamati jika anak mengonsumsi antibiotik adalah
gangguan saluran cerna, seperti diare, mual, muntah, mulas/kolik, ruam
kulit, hingga pembengkakan bibir, kelopak mata, hingga gangguan napas.
"Berbagai penelitian juga menunjukkan, pemberian antibiotik pada usia dini
akan mencetuskan terjadinya alergi di masa yang akan datang," kata
Purnamawati tandas.

Kemungkinan lainnya, gangguan akibat efek samping beberapa jenis antibiotik
adalah demam, gangguan darah di mana salah satu antibiotik seperti
kloramfenikol dapat menekan sumsum tulang sehingga produksi sel-sel darah
menurun. Lalu, kemungkinan kelainan hati, misalnya antibiotik eritromisin,
flucloxacillin, nitrofurantoin, trimetoprim, sulfonamid. Golongan
amoxycillin clavulinic acid dan kelompok makrolod dapat menimbulkan allergic
hepatitis.
Sementara antibiotik golongan aminoglycoside, imipenem/meropenem,
ciprofloxacin juga dapat menyebabkan gangguan ginjal.

Jika anak memang memerlukan antibiotik karena terkena infeksi bakteri,
pastikan dokter meresepkan antibiotik yang hanya bekerja pada bakteri yang
dituju, yaitu antibiotik spektrum sempit (narrow spectrum antibiotic). Untuk
infeksi bakteri yang ringan, pilihlah yang bekerja terhadap bakteri gram
positif, sementara infeksi bakteri yang lebih berat (tifus, pneumonia,
apendisitis) pilihlah antibiotik yang juga membunuh bakteri gram negatif.
Hindari pemakaian salep antibiotik (kecuali infeksi mata), serta penggunaan
lebih dari satu antibiotik kecuali TBC atau infeksi berat di rumah sakit.

Jika anak terpaksa menjalani suatu operasi, untuk mencegah infeksi
sebenarnya antibiotik tidak perlu diberikan dalam jangka waktu lama. "Bahkan
pada operasi besar seperti jantung, antibiotik cukup diberikan untuk dua
hari saja," ujar Iwan. Purnamawati menganjurkan, para orangtua hendaknya
selalu memfotokopi dan mengarsip segala resep obat dari dokter, dan tak ada
salahnya mengonsultasikan kepada ahli farmasi sebelum ditebus.

Sejak beberapa tahun terakhir, sudah tidak ditemukan lagi antibiotik baru
dan lebih kuat. Sementara kuman terus menjadi semakin canggih dan resisten
akibat penggunaan antibiotik yang irasional. Inilah yang akan menjadi
masalah besar kesehatan masyarakat. Antibiotik dalam penggunaan yang tepat
adalah penyelamat, tetapi jika digunakan tidak tepat dan brutal, ia akan
menjadi bumerang.

"Antibiotik seperti pisau bermata dua. Untuk itu, media massa berperan besar
menginformasikan hal ini dan tidak perlu khawatir jika industri farmasi
ngambek tak mau beriklan," tutur Iwan. (SF)

Bagaimana Menolong Anak Kejang ?

pdpersi, Jakarta -
Penanganan terhadap anak kejang akan berpengaruh terhadap kecerdasannya.
Jika Anda terlambat mengatasi kejang pada anak, ada kemungkinan penyakit
epilepsi, atau bahkan keterbalakangan mental. Keterbelakangan mental di
kemudian hari. Kondisi yang menyedihkan ini bisa berlangsung seumur
hidupnya.

Sebelum kejang biasanya anak akan menderita demam yang tinggi, yaitu 38 - 40
derajat Celcius. Pada saat demam ini, kekejangan tergantung kekuatan tubuh
si anak. Banyak anak demam tinggi dan kejang setelah melakukan imunisasi.
Biasanya setelah imunisasi, dokter memberi resep obat penurun panas untuk
segera diminumkan ke si kecil.

Jenis Kejang
Kejang kontraksi otot yang berlebihan di luar kehendak. Kejang bisa hanya
timbul pada waktu suhu badan meningkat yang disebut kejang demam (convalsio
febrillis). Atau mengejangnya otot-otot pangkal tenggorok sebagai akibat
menyempitnya jalan napas yang disebut kejang laring (laryngospasm).

Timbulnya kejang bisa disertai demam atau diistilahkan dengan kejang demam.
Penyebab kejang demam biasanya akibat adanya suatu penyakit di dalam tubuh
si kecil. Penyakit yang di manifestasikan kejang yaitu penyakit kejang
demam, epilepsi atau tuberkolusis intrakranial atau orang awam menyebutnya
TBC otak.

Kejang demam dapat berjalan singkat dan tidak berbahaya. Tapi bila kejang
mencapai 15 menit dapat membahakan si kecil karena bisa menyebabkan
kerusakan otak sehingga dapat menyebabkan epilepsi, kelumpuhan bahkan bisa
menyebabkan retardasi mental. Kejang demam dialami 2% sampai 3% anak-anak.

Kejang demam terbagi dua, yaitu kejang demam yang sederhana dan kejang demam
yang akibat penyakit lain atau gangguan dalam tengkorak kepala. Kejang
sedarhana dengan ciri-ciri menyerang anak usia 4 bulan sampai 4 tahun,
kejang berlangsung tidak lebih dari 15 menit, kejang timbul dalam 16 jam
demam pertama, frekuensi demam kurang dari 4 kali dalam setahun.

Kejang dapat timbul pula ketika si kecil menderita muntah dan diare. Kejang
bisa pula timbul tanpa demam, yaitu disebabkan gangguan elektrolit darah
akibat muntah dan diare, sakit lama yang menyebabkan gula darah rendah,
asupan makan yang kurang, atau menderita kejang yang sudah lama dialami
akibat epilepsi. Kejang akibat kelainan neurologis atau gangguan
perkembangan, berlangsung lebih dari 15 menit.

Faktor Keturunan
Kejang akibat penyakit lain seperti epilepsi biasanya berasal dari keluarga
memiliki riwayat kejang demam sama. Orang tua yang pernah mengalami kejang
sewaktu kecil sebaiknya waspada karena si kecil berisiko tinggi mengalami
kejang yang sama.

Selain faktor, setiap penyakit atau kelainan yang mengganggu fungsi otak
dapat pula menyebabkan kejang. Bisa akibat trauma lahir, trauma kepala,
tumor otak, radang otak, perdarahan di otak, hipoksia (kekurangan oksigen
dalam jaringan), gangguan elektrolit, gangguan metabolisme, gangguan
peredarah darah, keracunan, alergi dan cact bawaan.

Anak yang pernah menderita kejang demam, sebesar 50 persen berisiko terkena
kejang demam kembali dalam setahun pertama setelah kejang. Anak yang
menderita kejang demam kemudian diikuti dengan kejang tanpa demam berisiko
lima kali lebih besar menderita retardasi mental.

Kajeng-kejang kemungkinan bisa terjadi bila suhu badan sang bayi atau anak
terlalu tinggi. Dimana pada saat kejang badannya menjadi kaku, bola mata
berbalik keatas, kondisi ini biasa disebut "step".

Bila si kecil mengalami keadaan ini, segeralah bawa ke dokter atau rumah
sakit yang terdekat. Karena jika keadaan kejang seperti ini dibiarkan
terlalu lama, dapat menbahayakan si kecil.

JANGAN PAKAI KOPI
Kejang demam biasanya diobati dengan antiperik (penurun panas) seperti
Diazepam. Sedangkan kejang akibat epilepsi ditangani dengan obat
anti-epilepsi. Namun sebaiknya segera pergi ke dokter bila anak Anda
mengalami kejang yang tidak berhenti.

Jangan mudah percaya bahwa minum kopi bisa menghindari dari kejang atau
step. Secara medis, menurut salah satu Dokter Anak di Jakarta, sebetulnya
kopi tidak bergunauntuk mengatasi kejang. Kopi justrudapat menyebabkan
tersumbatnya pernapasan bila diberikan pada saat anak Anda mengalami kejang,
yang akhirnya mengantarkan pada kematian.

Kasus kejang kopi ini pernah terjadi di Balikpapan, seorang bocah laki-laki
berusia 5 tahun yang mengalami sakit muntaber. Setelah diberi pengobatan di
sebuah rumah sakit, bocah tersebut mulai membaik. Namum ketika sampai
dirumah, bocah bernama Andika tersebut mengalami kejang-kejang. Karena
bermaksud menghentikan kejang si bocah, ibu bocah itu kemudian memberikan
sesendok cairan kopi yang kebetulan ada didekatnya pada si Andika yang
sedang kejang. Kejangnya bukan berkurang, seluruh badannya mengalami kejang
semakin hebat dan selanjutnya Andika tidak bergerak lagi.

MENCEGAH KEJANG

Demam tinggi pada anak dapat diatas dengan cara memberi obat demam dengan
penurun panas dan kompres dengan lap hangat (lebih kurang panasnya dengan
suhu badan si kecil) selama kurang lebih 15 menit, bila mencapai 38.5
derajat celcius atau lebih
Jangan melakukan pengkompresan dengan lap yang dingin, karena dapat
menyebabkan korslet di otak (akan terjadi benturan kuat karena atara suhu
panas tubuh si kecil dengan lap pres dingin)
Kalau dinyatakan epilepsi, segera minum obat resep dokter secara teratur
Sediakan obat anti kejang lewat dubur di rumah jika kejang membuat anak
tidak mungkin meminum obat.
sedia selalu obat penurun panas di rumah seperti parasetamol
.
Sumber: Human Health

7 Obat terlarang untuk bayi
1.Aspirin (asetosal)
2.Obat-obatan anti mual
3.Jangan berikan obat milik orang lain
4.Hati-hati obat kadaluarsa
5.Hindari tambahan acetaminofhen
6.Hindari ibuprofen jika bayi muntah
7.Hindari obat kunyah dibawah usia 3 tahun u/menghindari sikecil tersedak
Sumber : Ayahbunda No.22 edisi 1-14 Nov 2003
 

Mengobati Diare & Mencegah Dehidrasi
Kebanyakan anak tetap mengkonsumsi makanan spt biasanya termasuk susu
saat mereka terkena diare ringan. ASI tetap harus diberikan. Jika bayi anda
terlihat
kembung atau ber-gas setelah minum susu sapi atau formula, hubungi dokter
anak
(DSA) diskusikan kemungkinan mengganti susu sementara. Cairan khusus umumnya
tidak dibutuhkan untuk anak dengan gejala diare ringan.

Anak dengan gejala diare sedang dapat diawat di rumah dengan pengawasan
ekstra,
cairan khusus (spt diare), dan nasehat dari DSA. Biasanya DSA akan
merekomendasikan berapa banyak cairan khusus yg diberikan & jarak
pemberiannya. Selanjutnya, DSA akan mengevaluasi jenis makanan yg dapat
dikonsumsi. Beberapa anak tidak dapat mencerna saat susu sapi mengalami
diare. Mungkin saja DSA akan menganjurkan untuk tidak dikonsumsi dahulu.
Pemberian Air Susu Ibu (ASI) tetap harus diberikan.

Cairan khusus (oralit) telah dibuat sedemikian rupa untuk menggantikan
cairan & garam
elektrolit yg hilang selama diare. Cairan ini sangat bermanfaat sekali untuk
perawatan
diare ringan hingga diare sedang. Jangan membuat sendiri cairan ini. Takaran
& kandungan dari oralit sangat kompleks. Akibatnya mungkin saja tanpa
sengaja anda salah membuatnya.

Gunakan cairan yang dibuat oleh beberapa perusahaan farmasi terpercaya.

Contohnya jenis-jenis produk cairan rehidrasi yg umumnya terdapat di apotik,
seperti :
. Pedialyte (Ross Laboratories)
. Infalyte (Mead Johnson Nutritionals)
. ReVital (PTS Labs)

Cairan rehidrasi dg merek lain juga banyak tersedia & sama efektifnya. Tiap
apotik atau
toko obat memiliki cairan ini dengan berbagai merek. Tanyakan pada apoteker
jika anda butuh bantuan.

Jika anak sedang tidak muntah, cairan ini dapat digunakan rutin hingga
jumlah urine (air seni) anak kembali normal.

Jika anak mengalami dehidrasi berat, ia membutuhkan cairan melalui infus
(IV) di UGD RS selama beberapa jam untuk mengembalikan kondisinya dari
dehidrasi. Umumnya rawat inap tidak diperlukan. Segera hubungi DSA untuk
mendapatkan saran mengenai perawatan jika gejala dehidrasi berat terjadi.

Di lain pihak, diare akan hilang dengan sendirinya. Namun perhatikan hal-hal
di bawah ini. Ingatlah selalu hal-hal yg boleh dan tidak boleh anda lakukan
:


LAKUKAN / DO

. Perhatikan tanda-tanda dehidrasi, terutama saat anak kehilangan banyak
cairan
dan jadi kekurangan cairan. Tanda-tanda dehidrasi berat seperti : frekuensi
BAK
yg menurun, saat menangis tidak ada air mata, demam tinggi, rongga mulut
kering
berat badan turun, haus luar biasa, lemas luar biasa, dan mata cekung.

. Informasikan segera DSA jika ada perubahan signifikan dari perilaku anak.
Seperti, tidur yang tidak dapat dibangunkan.

. Laporkan jika terdapat darah dalam tinja anak.

. Laporkan jika suhu anak saat demam meningkat (lebih dari 102ºF or 39ºC).

. Anak tetap diberi makan saat ia sedang tidak muntah. Berikan dalam porsi
sedikit
dari biasanya. Juga berikan makanan yang tidak membuat perutnya makin parah.

. Gunakan cairan rehidrasi yang dibuat khusus untuk menggantikan cairan
tubuh yg
hilang, terutama jika anak haus.


JANGAN LAKUKAN / DON'T

. Membuat cairan rehidrasi (oralit) sendiri, kecuali atas petunjuk &
instruksi
dari DSA dan anda memiliki alat-alatnya.

. Melarang anak untuk makan saat ia lapar.

. Menggunakan susu yg direbus atau kaldu/sup yg asin.

. Menggunakan obat "anti-diare" (kecuali atas instruksi DSA).

© Copyright2000 American Academy of Pediatrics
This article is provided by Medem, Inc. All rights reserved.



Mencegah dehidrasi saat Diare
Diare (meningkatnya frekuensi BAB yg cair & banyak) dapat disebabkan oleh
bakteri, virus atau parasit yang menginfeksi saluran cerna. Diare dapat juga
disebabkan
oleh substansi tertentu dalam makanan atau obat-obatan yang tidak dapat
ditoleransi
oleh sistem pencernaan. Diare kronis (diare terus menerus selama lebih dari
2 atau 3 minggu dapat juga mengindikasikan tanda-tanda (symptom) dari
penyakit kronis.

Dalam sebuah artikel tanggal January 17, 2001, The Journal of the American
Medical Association mendiskusikan perlunya petunjuk untuk memeriksa sampel
tinja
pada pasien-pasien di RS. Tes tinja dapat membantu membedakan penyebab dari
diare.

Apakah dehidrasi itu ?
Tubuh membutuhkan air & elektrolit dalam jumlah tepat untuk membantu
fungsi-fungsi
vital tubuh dengan benar. Diare dapat menyebabkan hilangnya cairan &
elektrolit penting
dari tubuh. Ketika cairan yg hilang melalui tinja, tidak digantikan, maka
diare dapat
menyebabkan dehidrasi (rendahnya cairan dalam tubuh lebih rendah dari kadar
normal).
Dehidrasi dapat menyebabkan komplikasi yang membahayakan nyawa seseorang,
khususnya bayi, anak kecil dan mereka yg lanjut usia.

Mencegah Dehidrasi

Diare merupakan masalah umum yang biasanya akan pulih dengan sendirinya.
Menjaga agar tidak dehidrasi adalah satu-satunya hal yang sangat diperlukan.

. Perbanyaklah minum untuk menggantikan cairan dalam tubuh yg hilang.
Terutama cairan rehidrasi oral (minuman pengganti cairan & elektrolit) yang
tersedia di toko obat. Cairan ini sangat direkomendasikan bagi bayi &
anak-anak.

. Hindari minuman yg mengandung kafein, seperti kopi, teh dan beberapa
minuman
soft drink, dan alkohol.

. Obat-obatan anti-diare biasanya TIDAK DIPERLUKAN dan jika dikonsumsi
harus dalam pengawasan dokter. Obat-obatan tsb dapat berbahaya, terutama
jika
oleh anak-anak dan orang yg lanjut usia.

Tanda-tanda dehidrasi (ringan)
. Rasa haus meningkat
. Frekuensi Buang Air Kecil (BAK) menurun
. Lemas

Tanda-tanda dehidrasi berat pada anak kecil dapat juga berupa (Lihat gambar
di atas):
. Mulut kering mouth or tongue
. Saat menangis, tidak ada atau sedikit air mata yang keluar
. Tidak BAK selama 3 jam atau lebih
. Cekung pada mata, pipi, sekitar dada & perut, atau ubun-ubun
. Rewel luar biasa (Irritability) atau lemas luar biasa
. Menurunnya skin turgor (jika kulit dicubit dan dilepas, ia tidak dapat
kembali spt semula

Kapan menghubungi dokter
Hubungi dokter jika diare dibarengi / muncul :
. Tanda-tanda dehidrasi berat
. Ada darah di tinja atau tinja berwarna hitam
. Muntah terus-menerus tapi tidak ada cairan yg masuk melalui mulut
. Rasa sakit hebat di daerah sekitar perut
. Demam tinggi terus-menerus
. Tidak ada kemajuan lebih dari 24 jam atau diare makin parah lebih dari 2
atau 4 hari

Hubungi dokter jika anda mencurigai anda atau orang lain mengalami dehidrasi
berat.
Dehidrasi berat terkadang perlu penanganan dengan cairan intravenous (cairan
yang
dimasukkan langsung melalui pembuluh darah). Jangan bergantung hanya pada
cairan
melalui mulut untuk penanganan dehidrasi berat.

For More Information
. American Academy of Pediatrics
Diarrhea and Dehydration Guidelines for Parents
HTUwww.aap.orgUTH
. National Institute of Diabetes and Digestive and Kidney Diseases
Diarrhea


Kapan Menghubungi Dokter..?



DEMAM

Pada umumnya, demam tidak membahayakan, namun demikian, ada beberapa kondisi
dimana orang tua harus waspada. Pada bayi misalnya, semakin muda usianya,
orang tua harus harus semakin waspada. Tengok patokan umum di bawah ini;
pada bayi yang lebih tua (usia 6 bulan atau lebih), kita baru menghubungi
dokter bila suhunya mendekati 40°C. Pada bayi yang lebih muda, dianjurkan
untuk menghubungi dokter bila suhunya 38°C atau lebih.
. Bila bayi berusia < 3 bulan dengan suhu tubuh ³ 38°C
. Bila bayi berusia 3 - 6 bulan dengan suhu tubuh ³ 38.5°C
. Bayi dan anak berusia > 6 bulan, dengan suhu tubuh ³ 40°C

Selain tingginya suhu tubuh, dokter juga perlu dihubungi pada beberapa
kondisi berikut ini:
- Apabila kondisi anak memburuk
- Demam sudah berlangsung 72 jam
- Susah minum atau tidak mau minum atau sudah mengalami dehidrasi
- Rewel atau menangis terus menerus, tidak dapat ditenangkan
- Tidur terus menerus, lemas dan sulit dibangunkan (lethargic)
- Kejang atau kaku kuduk leher
- Sakit kepala hebat yang menetap
- Sesak napas
- Muntah, diare terus-menerus


SELESMA

- Demam lebih dari 72 jam
- Batuk lebih dari satu minggu; atau batuk hebat dengan muntah2.
- Rewel dan letargi
- Sesak napas atau tampak kebiruian sekitar bibir dan mulut
- Jarang buang air kecil (lihat dehidrasi) atau tidak mau minum
- Dahak ada darahnya
- "Ingus" hijau kental lebih dari 2 minggu

BATUK

- Mengalami kesulitan bernapas atau bernapas dengan sekuat tenaga (otot-otot
pernapasan tambahan ikut dikerahkan sehingga tampak otot-otot di sela-sela
iga tertarik ke dalam, otot di atas belikat juga tertarik ke dalam, napas
cuping hidung);
- Kebiruan di bibir, lidah atau wajah;
- Demam tinggi terutama bila tidak ada batuk pilek; sedangkan pada bayi
berusia kurang dari 3 bulan, dokter harus tetap dihubungi (tanpa memandang
tingginya demam);
- Bayi berusia £ 3 bulan yang terbatuk-batuk selama beberapa jam;
- Bila terdengar suara whooping saat bernapas sesudah terbatuk;
- Bila batuk ada darahnya (kecuali bila anak baru saja mengalami mimisan,
maka biasanya darah di batuknya tidak perlu dikhawatirkan);


DIARE

- Popoknya tidak basah selama 8 jam, serta tanda-tanda dehidrasi yang sudah
dikemukakan di atas.
- Demam tinggi.
- Tinjanya berdarah.
- Mengantuk luar biasa, lemas, sulit dibangunkan.
- Bila anaknya mengalami diare kronis.


INFEKSI TELINGA

Bawa anak ke dokter bila anda mencurigai adanya otitis media. Namun harap
diingat, dokter tidak otomatis akan memberikan antibiotika setiap kali
telinga anak terlihat merah.
- Bayi dan anak kecil berisiko untuk kerap terkena infeksi telinga
- Otitis media tidak selalu harus diobati dengan antibiotika
- Untuk beberapa lama (sampai dengan 3 bulan) sesudah otitis media, akan
terdapat cairan di rongga telinga tengah. Ini merupakan kondisi yang normal
dan tidak membutuhkan pengobatan apapun.


MUNTAH

Muntah yang tidak disertai dengan gejala lain dan tidak berulang, biasanya
bukan hal yang perlu dikhawatirkan. Bawa segera anak ke rumah sakit bila:
- Muntah kehijauan.
- Sakit perut selama 6 jam.
- Bintik-bintik merah muda/keunguan yang tidak hilang saat ditekan.

Hubungi dokter bila anak menunjukkan gejala berikut:
- Bayi muntah-muntah selama 6 jam terakhir atau anak selama 12 jam
- Apabila bayi menunjukkan gejala dehidrasi (ubun-ubun besar cekung (bayi),
matanya cekung, bibir kering; buang air kecil sedikit dan berwarna lebih tua
dari biasanya; elastisitas kulit menurun.
- Tidak mau minum.
- Mengantuk luar biasa dan rewel.


KONDISI GAWAT DARURAT: KENALILAH

- Mengantuk luar biasa (drowsiness). Kesadaran agak menurun, kontak mata
berkurang. Berbagai rangsangan (termasuk rangsangan suara) tidak menimbulkan
respons dari pihak si anak

- Letargi atau penurunan aktivitas. Anak berbaring lunglai, kaki dan tangan
jarang digerakkan. Anak juga tidak tertarik untuk terlibat dalam suatu
kegiatan.

- Gangguan napas. Anak bernapas dengan cepat atau merintih saat bernapas,
atau setiap kali menarik napas, otot-otot dada tertarik ke dalam.

- Tidak mau minum atau makan (poor feeding). Minum jauh lebih sedikit dari
biasanya. Bayi tidak mau menetek atau meneteknya sangat jarang dan
hisapannya lemah. Bayi non ASI hanya minum separuh dari kebutuhannya dalam
24 jam. Bayi juga samasekali menolak makan.

- Muntah menyemprot. Muntah ini tidak ada kaitannya dengan makan atau minum,
tidak ada pula kaitannya dengan batuk. Muntah kuat terjadi secara
tiba-tiba.Pikirkan kemungkinan adanya peningkatan tekanan di rongga kepala
seperti yang biasa terjadi pada meningitis.

- Produksi urin berkurang atau dehidrasi berat. Anak buang air kecil kurang
dari 4 kali dalam 24 jam (popoknya tetap kering selama 6 - 8 jam).

- Bayi tersedak (bayi tidak bisa bernapas, muka menjadi merah lalu biru).
- Diare terus menerus selama 12 jam terakhir. Muntah-muntah hebat.

- Kondisi lain yang juga perlu untuk dibawa ke unit layanan kesehatan adalah
muntah berwana hijau, kejang berulang atau lama, demam tinggi (terutama
demam pada bayi berusia kurang dari 6 bulan), hernia, rewel terus menerus
dan sulit ditenangkan


Common Problems in Pediatrics


Beberapa negara, terutama negara maju, telah menerapkan konsep partnership
atau kemitraan antara dokter dan konsumen medis (pasien).  Kondisi ini suka
atau tidak suka masih belum membudaya di negara kita, Indonesia. Sistem yg
berlaku relatif paternalistik. Sementara itu di era komunikasi ini, konsumen
banyak sekali dibantu dengan kemudahan teknologi yg ada. Melalui internet,
konsumen medis dapat belajar lebih jauh untuk memahami masalah kesehatan.
Sehingga pasien yg aktif berpartisipasi dalam menangani masalah kesehatannya
merupakan hal penting dalam layanan kedokteran yang baik. Karenanya, istilah
Konsumen Medis jauh lebih tepat dibandingkan “pasien”. Konsumen terkesan
lebih aktif dibandingkan dg pasien yg terkesan pasif dan pasrah. Ingat,
sebagai konsumen medis/kesehatan, kita memiliki hak, bukan hanya kewajiban.

Apa hak konsumen kesehatan? Memperoleh informasi yang benar dan obyektif.
Hal ini sesuai dengan tugas seorang tenaga kesehatan. Tugas dokter bukan
hanya KURATIF (mengobati kondisi sakit), melainkan juga EDUKATIF PROMOTIF
(penyuluhan kesehatan) dan upaya PREVENTIF (Pencegahan).
Apa kewajiban konsumen? Learn as much as possible. Salah satunya adalah
mencari informasi, mempelajari dasar-dasar kesehatan dan mempelajari segala
sesuatu perihal penyakit yang sedang dialami. Manfaatkan kemajuan teknologi
yanga ada. Cari informasi kesehatan melalui internet, tetapi selektiflah
memilih situs yang dipercaya. Be active, speak up terutama saat medical
visit. Jika perlu cari 2nd opinion.

Topik pertemuan kali ini adalah berbagai masalah kesehatan yang umum terjadi
pada anak. Selain demam, alasan terbanyak orangtua membawa anaknya ke dokter
adalah batuk pilek, radang tenggorokan, dan diare. Orang tua panik, anak
memperoleh berbagai macam obat yang belum tentu diperlukan, yang juga belum
tentu tanpa efek samping. Sedihnya lagi, tak jarang anak diberikan
antibiotik.  Padahal sebagian besar penyebabnya adalah virus, yang tidak
bisa "dilawan" oleh antibiotik.

Demam, batuk-pilek, radang tenggorokan, diare, merupakan kondisi langganan
anak-anak. Pelajarilah, agar dapat bertindak dengan tenang dan rasional,
agar tidak tergopoh-gopoh mengambil obat dan mengobati gejala-gejala
tersebut.
Semoga melalui sharing dan materi ini kita, para orang tua, akan jauh lebih
bijak dalam menyikapi masalah kesehatan yang sering terjadi pada anak.

SLIDE 1. Common Problems in Pediatrics : Title

Peran seorang pasien (tepatnya konsumen medis) sangat berpengaruh dan
menentukan dalam kinerja tenaga medis. Konsumen medis yang aktif
berpartisipasi dalam menangani masalah kesehatannya, akan sangat membantu
kinerja dokter dan tenaga medis lainnya. Terutama kinerja dokter untuk tetap
berpegang pada prinsip pola pengobatan yang rasional (Rational Use of Drugs
/ RUD) .  Pola pengobatan yang rasional adalah AMAN dan COST EFFECTIVE.
Perlu kita ketahui banyak faktor yang berperan dalam pemberian obat. Paling
tidak ada 3 faktor yang dominan berperan kuat, yaitu dokter (penulis resep),
konsumen (pasien) dan industri obat.
Intinya, konsumen (pasien) yang tidak rasional akan mendorong iklim layanan
kesehatan yang tidak rasional pula.  Demikian pula sebaliknya.

SLIDE 2. IRRATIONAL USE OF DRUGS (IRUD)

Pola pengobatan yang irrational menjadi concern seluruh dunia.
Minimal ada dua masalah utama perihal IRUD yaitu polifarmasi dan pemberian
antibiotik yg berlebihan/tidak pada tempatnya.
Masalah polifarmasi tanpa disadari sering terjadi, terutama saat anak sakit.
Evaluasi kembali buku kesehatan / kartu berobat putra/I bapak/ibu.
Perhatikan berapa kali dalam 1 th kita membawa anak berobat karena sakit.
Coba jawab pertanyaan berikut :
• Berapa kali dalam kunjungan ke dokter, ibu tidak memperoleh obat ?
Tidak juga antibiotik ?
• Apakah setiap kali berobat anak mendapatkan obat puyer ?
• Berapa jumlah obat dalam tiap puyer ?

Umumnya para dokter mengajukan minimal 3 alasan mengapa mereka cenderung
“abusive”, yaitu :

1. LACK OF CONFIDENCE.
Kebanyakan dokter sering tidak yakin atau merasa kurang PEDE untuk
menyatakan bahwa pasien tsb sakit akibat infeksi virus, yang tidak
membutuhkan antibiotik. Para dokter juga merasa “insecure” takut pasien
pindah ke dokter lain.

2. PATIENT PRESSURE.
Tidak sedikit pasien, tanpa disadari, memilih bersikap pasif dan menganggap
dokter tahu yg terbaik. Sehingga obat yang diberikan dokter pasti yang
terbaik. Padahal dokter dapat bisa saja salah memberikan obat.
Pasien yang irasional, sering menuntut dokter untuk memberikan antibiotik ,
karena menganggap antibiotik merupakan “obat dewa” yang bisa menyembuhkan
segala kondisi. Pasien irrasional sering “menuntut” dokter sebagai “tukang
sihir”, yang dapat memberikan obat yang cespleng.
DOCTOR is a kind of MAGICIAN sehingga setiap kita ke dokter kita selalu
berharap segera sembuh. Hal ini juga menimbulkan beban tersendiri bagi para
dokter.

3.  COMPANY PRESSURE.

Dalam Doctor-patient partnership, dokter sangat bergantung/membutuhkan
pasien sebagaimana pasien bergantung / membutuhkan dokter.  Tindakan pasien
akan sangat mempengaruhi tindakan sang dokter. Pasien yang irrasional akan
mendorong dokter menjadi irrasional. Intinya adalah tanggung jawab atau
kewajiban menyehatkan anak bukan hanya di bahu seorang dokter, tetapi juga
orangtua sbg konsumen medis.

SLIDE 3. IMMUNE SYSTEM

Sejak lahir Tuhan telah melengkapi kita dengan sistem imun (daya tahan
tubuh) yang sempurna & canggih. Diantaranya ASI.
Secara garis besar, sistem imun terdiri atas 2 bagian, yaitu :

1. Bagian yang langsung “membunuh” kuman/virus/parasit, dll yang menyerang
tubuh kita dan membuat tameng / proteksi untuk “serangan” serupa.
Sistem imun yang bertugas langsung membasmi “musuh” tsb adalah Sel Darah
Putih atau LEUKOSIT. Leukosit juga membentuk antibodi, suatu zat untuk
menetralisir “musuh” bila suatu saat kita kembali terserang oleh infeksi
yang sama.
2. Bagian atau sel-sel yang bertugas membantu sel leukosit sehingga
leukosit jauh lebih efektif “serangan”nya.

SLIDE 4. BACTERIA & VIRUS

Kedua makhluk tersebut amat dangat kecil tetapi memiliki canggih & lihai
agar dapat lolos dari serangan sistem imun tubuh kita.

• Bakteri.
Bakteri ada dimana-mana, di alam, dan di sekitar kita. Bahkan tubuh kita
dipenuhi oleh bakteri. Bahkan ASI mengandung bakteri.
Hal ini menunjukkan bahwa mayoritas bakteri TIDAK JAHAT, bahkan
menguntungkan. Kita justru membutuhkan bakteri tsb di dalam usus seperti
untuk :
a) Mencernakan makanan menjadi zat-zat bergizi
b) Mengolah makanan menjadi vitamin B & K
c) Melindungi kita agar tidak terinfeksi oleh kuman yang jahat.
d) Membantu pencernaan agar kita tidak sembelit

Berdasarkan sifat kimiawinya, bakteri dibagi dua yaitu bakteri Gram Positif
dan bakteri Gram negatif.

1. Bakteri Gram positif
a.  umumnya lebih mudah di”lawan” dibandingkan bakteri Gram negatif.
b. dapat diatasi oleh antibiotik yang ringan (narrow spectrum antibiotik)
c. umumnya menyebabkan Infeksi di bagian atas diafragma

2. Bakteri Gram negatif
a. menyebabkan infeksi di bagian bawah diafragma

Broad spectrum antibiotics adalah antibiotik yang menyerang kedua kelompok
bakteri di atas

INGAT :
- Pemberian antibiotik yang terlalu sering dan terlalu lama akan mematikan
kuman yang baik.  Hal ini akan menganggu pencernaan misalnya diare akibat
munculnya banyak jamur,  kekurangan vitamin B & K.
- Semakin sering kita  memakan antibiotik, semakin sering kita jatuh sakit.

• Virus.
Virus jauh lebih kecil daripada bakteri. Virus tidak dapat dibunuh oleh
obat, antibiotik sama sekali tidak bekerja terhadap virus. Virus hanya bisa
dibasmi oleh sistem imun atau daya tahan tubuh kita.

SLIDE 5. RADANG / INFLAMMATION - ITIS

Kita sering menyalahartikan istilah radang sebagai suatu keadaan akibat
infeksi kuman.
Radang atau inflamasi artinya MERAH, BENGKAK, dan SAKIT. Radang tenggorokan,
artinya tenggorokannya merah, sakit, dan mungkin agak membengkak
(amandelnya).

 Radang karena INFEKSI.
Radang akibat infeksi dapat dibagi2, yaitu :
1.  Radang karena kuman
2.  Radang karena virus.
85% radang tenggorokan pada bayi/anak disebabkan oleh infeksi VIRUS  -
sehingga tidak perlu antibiotik.

 Radang BUKAN INFEKSI.
Biasanya disebabkan oleh kondisi seperti ALERGI, TRAUMA, AUTOIMMUN,
TEETHING, dll. Kesemuanya, sekali lagi, tidak dapat diobati dengan
antibiotik. Upaya terbaik mengatasi alergi adalah avoidance - mengurangi
kemungkinan exposure hal2 yang bisa menimbulkan alergi (debu, karpet,
binatang berbulu, mainan berbulu, AC, makanan tertentu dengan pewarna,
pengawet, perasa sintetik, permen, sea food, dll).

 Demikian halnya dengan DEMAM.
Demam dapat disebabkan oleh infeksi dan juga bukan karena infeksi.
Sekali lagi, penyebab demam terbanyak pada anak adalah infeksi virus. Demam
itu sendiri merupakan salah senjata tubuh untuk melawan infeksi. Dengan
perkataan lain, kalau ada infeksi, tubuh kita memproduksi panas sebagai
bagian dari sistem imun untuk melawan infeksinya. Tetapi demam juga bisa
dikarenakan hal lain yg tidak ada hubungannya dg infeksi.

SLIDE 6. FEVER

Demam adalah alasan terbanyak orangtua membawa anaknya ke dokter. Apalagi
jika orangtua tidak memiliki ilmu yang cukup mengenai demam, penyebab demam
& tatacara merawat anak demam.

Bahayakah demam itu ? Burukkah demam itu ?
Tidak ada sesuatu yang 100% buruk atau 100% baik. Demikian juga dengan
demam. Tuhan pasti memiliki maksud dibalik fenomena demam.
There is something for many reasons.
Tubuh kita diciptakan oleh Tuhan dengan dilengkapi mekanisme pengaturan yang
canggih, termasuk mekanisme pengaturan suhu.
Di otak kita terdapat termostat bernama hipotalamus yang mengatur mekanisme
ini. Tepatnya terdapat pusat pengaturan suhu disebut juga SET POINT.
Pengatur suhu tubuh ini akan memastikan tubuh kita senantiasa pada suhu
konstan (sekitar 37C) .

Demam adalah kondisi dimana otak (melalui Set Point) memasag suhu diatas
setting normal yaitu > 38C. Namun demikian demam yang sesungguhnya adalah
bila suhu >38.5C. Akibat kenaikan setting suhu tubuh tsb, maka tubuh akan
memproduksi panas melalui tahapan : menggigil hingga mencapai suhu puncak 
suhu demam stabil  suhu mulai turun.

Bagaimana dan mengapa timbul demam ?
Peningkatan suhu tubuh ini disebabkan oleh beredarnya molekul kecil dalam
tubuh, yaitu PIROGEN – suatu zat pencetus panas.

Apa yang menyebabkan terjadinya peningkatan pirogen ?
Penyebabnya antara lain : infeksi, radang, keganasan, alergi. Teething, dll.
Pada saat terserang infeksi, sistem imun tubuh kita akan membasmi infeksi
tsb dengan serangan leukosit (sel darah putih).

Agar tugas leukosit tsb efektif dan tepat sasaran, dibutuhkan dukungan
banyak pihak termasuk pirogen, yang ebrtugas :
1. Mengerahkan sel darah putih (leukosit)
2. Menimbulkan demam yang akan membunuh virus. Karena virus tidak dapat
hidup di suhu tinggi. Sementara itu virus akan tumbuh subut di suhu rendah.

Perhatikan hal berikut :
1. Selama infeksi masih berlangsung, memang harus ada demam.
2. Demam merupakan bagian dari sistem pertahanan tubuh untuk membasmi
infeksi.
3. Prinsip utama adalah cari penyebab timbulnya demam. Dengan mengetahui
sumber masalahnya, maka kita dapat bertindak secara rasional. Pada anak
penyebab utamanya adalah infeksi virus.
4. Beri minum lebih banyak dari biasanya.  Waspadai kemungkinan terjadinya
komplikasi dehidrasi.

American Academy of Pediatrics (AAP) merekomendasi tatacara p

This Website Built and Hosted for Free at Bravenet.com

Web Hosting · Blog · Guestbooks · Message Forums · Mailing Lists
Allwebco Web Templates · Build your own toolbar · Free Talking Character · Audio, Fonts, Clipart
powered by a free webtools company bravenet.com