NICE stories.... 
adalah phenomena yang sulit dihindari dalam kehidupan berumah
tangga, kalau ada seseorang berkata: "Saya tidak pernah bertengkar dengan
isteri saya !"
Kemungkinannya dua, boleh jadi dia belum beristeri,atau ia tengah berdusta.
Yang jelas kita perlu menikmati sa'at-sa'at bertengkar itu, sebagaimana
lebih menikmati lagi sa'at sa'at tidak bertengkar. Bertengkar itu
sebenarnya sebuah keadaan diskusi, hanya saja dihantarkan dalam muatan
emosi tingkat tinggi. Kalau tahu etikanya, dalam bertengkarpun kita bisa
mereguk hikmah, betapa tidak, justru dalam pertengkaran, setiap kata yang
terucap mengandung muatan perasaan yang sangat dalam, yang mencuat dengan
desakan energi yang tinggi, pesan pesannya terasa kental, lebih mudah
dicerna ketimbang basa basi tanpa emosi. Tulisan ini murni Non Politik,
jadi tolong jangan tergesa-gesa menghapusnya Ketika saya dan si pencuri
[hati saya] -- eh enggak koq dia tidak curi hati saya, malah saya kasikan
dengan ikhlas dibarter hatinya yg tulus.
Pada awal bertemu dengan pencuri hati saya, setelah saya tanya apakah ia
bersedia berbagi masa depan dengan saya, dan jawabannya tepat seperti yang
diharap.
Kami mulai membicarakan : seperti apa suasana rumah tangga ke depan. Salah
satu diantaranya adalah tentang apa yang harus dilakukan kala kita
bertengkar, dari beberapa perbincangan hingga waktu yang mematangkannya,
tibalah kami pada sebuah
Memorandum of Understanding, bahwa kalau pun harus bertengkar, maka :
1. Kalau bertengkar tidak boleh berjama'ah.
Cukup seorang saja yang marah marah, yang terlambat mengirim sinyal nada
tinggi
harus menunggu sampai yang satu reda. Untuk urusan marah pantang
berjama'ah,
seorangpun sudah cukup membuat rumah jadi meriah. Ketika ia marah dan saya
mau menyela, segera ia berkata "STOP" ini giliran saya! Saya harus diam
sambil
istighfar. Sambil menahan senyum saya berkata dalam hati : "kamu makin
cantik kalau marah,makin energik ..."
Dan dengan diam itupun saya merasa telah beramal sholeh, telah menjadi
jalan
bagi tersalurkannya luapan perasaan hati yang dikasihi... "duh kekasih ..
bicaralah terus, kalau dengan itu hatimu menjadi lega, maka dipadang
kelegaan
perasaanmu itu aku menunggu ...."
Demikian juga kalau pas kena giliran saya "yang olah raga otot muka",saya
menganggap bahwa distorsi hati, nanah dari jiwa yang tersinggung adalah
sampah,
ia harus segera dibuang agar tak menebar kuman, dan saya tidak berani marah
sama siapa siapa kecuali pada isteri saya :)
Maka kini giliran dia yang harus bersedia jadi keranjang sampah. Pokoknya
khusus
untuk marah, memang tidak harus berjama'ah, sebab ada sesuatu yang lebih
baik
untuk dilakukan secara berjama'ah selain marah :)
2. Marahlah untuk persoalan itu saja, jangan ungkit yang telah terlipat
masa
(maksudnya masa lalu kita).
Siapapun kalau diungkit kesalahan masa lalunya, pasti terpojok, sebab masa
silam
adalah bagian dari sejarah dirinya yang tidak bisa ia ubah. Siapapun tidak
akan
suka dinilai dengan masa lalunya. Sebab harapan terbentang mulai hari ini
hingga
ke depan. Dalam bertengkar pun kita perlu menjaga harapan dan bukan
menghancurkannya. Sebab pertengkaran di antara orang yang masih mempunyai
harapan, hanyalah sebuah foreplay, sedang pertengkaran dua hati yang patah
asa,
menghancurkan peradaban cinta yang telah sedemikian mahal dibangunnya.
Kalau saya terlambat pulang dan ia marah,maka kemarahan atas keterlambatan
itu
sekeras apapun kecamannya, adalah "ungkapan rindu yang keras". Tapi bila
itu
dikaitkan dgn seluruh keterlambatan saya, minggu lalu,awal bulan kemarin
dan dua bulan lalu, maka itu membuat saya terpuruk jatuh.
Bila teh yang disajinya tidak manis (saya termasuk penimbun gula), sepedas
apapun saya marah,maka itu adalah "harapan ingin disayangi lebih tinggi".
Tapi
kalau itu dihubungkan dgn kesalahannya kemarin dan tiga hari lewat,plus
tuduhan
"Sudah tidak suka lagi ya dengan saya", maka saya telah menjepitnya dengan
hari
yang telah pergi, saya menguburnya di masa lalu, ups saya telah
membunuhnya,
membunuh cintanya.
Padahal kalau cintanya mati, saya juga yang susah ... OK, marahlah tapi
untuk
kesalahan semasa, saya tidak hidup di minggu lalu, dan ia pun milik hari
ini .....
3. Kalau marah jangan bawa bawa keluarga !
Saya dengan isteri saya terikat baru beberapa masa, tapi saya dengan ibu
dan
bapak saya hampir berkali lipat lebih panjang dari itu, demikian juga ia
dan
kakak serta pamannya. Dan konsep Quran, seseorang itu tidak menanggung
kesalahan
fihak lain (QS.53:38-40).
Saya tidak akan terpantik marah bila cuma saya yang dimarahi, tapi kalau
ibu
saya diajak serta, jangan coba coba. Begitupun dia, semenjak saya
menikahinya,
saya telah belajar mengabaikan siapapun di dunia ini selain dia, karenanya
mengapa harus bawa bawa barang lain ke kancah "awal cinta yang panas ini".
Kata ayah saya : "Teman seribu masih kurang, musuh satu terlalu banyak".
Memarahi orang yang mencintai saya, lebih mudah dicari ma'afnya dari pada
ngambek pada yang tidak mengenal hati dan diri saya..". Dunia sudah
diambang
pertempuran, tidak usyah ditambah tambah dengan memusuhi mertua!
4. Kalau marah jangan di depan anak anak !
Anak kita adalah buah cinta kasih, bukan buah kemarahan dan kebencian. Dia
tidak
lahir lewat pertengkaran kita, karena itu, mengapa mereka harus menonton
komedi
liar rumah kita. Anak yang melihat orang tua nya bertengkar, bingung harus
memihak siapa. Membela ayah, bagaimana ibunya. Membela ibu, tapi itu 'kan
bapak saya.
Ketika anak mendengar ayah ibunya bertengkar :
* Ibu : "Saya ini cape, saya bersihkan rumah, saya masak, dan kamu datang
main
suruh begitu, emang saya ini babu ?!!!"
* Bapak : "Saya juga cape, kerja seharian, kamu minta ini dan itu dan aku
harus
mencari lebih banyak untuk itu, saya datang hormatmu tak ada, emang saya
ini
kuda ????!!!!
* Anak : "...... Yaaa ...ibu saya babu, bapak saya kuda .... terus saya ini
apa ?"
Kita harus berani berkata : "Hentikan pertengkaran !" ketika anak datang,
lihat
mata mereka, dalam binarannya ada rindu dan kebersamaan. Pada tawanya ada
jejak
kerjasama kita yang romantis, haruskah ia mendengar kata bahasa hati kita
???
5. Kalau marah jangan lebih dari satu waktu shalat !
Pada setiap tahiyyat kita berkata : "Assalaa-mu 'alaynaa wa
'alaa'ibaadilahissholiihiin" Ya Allah damai atas kami, demikian juga atas
hamba
hambamu yg sholeh ....
Nah andai setelah salam kita cemberut lagi, setelah salam kita tatap isteri
kita
dengan amarah, maka kita telah mendustai Nya, padahal nyawamu ditangan Nya.
OK, marahlah sepuasnya kala senja, tapi habis maghrib harus terbukti lho
itu
janji dengan Ilahi ..... Marahlah habis shubuh, tapi jangan lewat waktu
dzuhur,
Atau maghrib sebatas isya ... Atau habis isya sebatas....??? Nnngg .. Ah
kayaknya kita sepakat kalau habis isya sebaiknya memang tidak
bertengkar ... :)
Tapi yang jelas memang begitu, selama ada cinta, bertengkar hanyalah
"proses
belajar untuk mencintai lebih intens" Ternyata ada yang masih setia dengan
kita walau telah kita maki-maki.
Ini saja, semoga bermanfa'at, "Dengan ucapan syahadat itu berarti kita
menyatakan diri untuk bersedia dibatasi".
Selamat tinggal kebebasan tak terbatas yang dipongahkan manusia pintar
Pagi itu kami temui bocah bocah di SD Min Lhoong.
untuk mengucap selamat jalan. Lalu kami minta mereka berSelawat,
dua, tiga kali lalu berTakbir dan berfoto disekolah darurat mereka,
didepan tenda tenda pengungsi, berwarna biru dan putih.
'Bunda jangan pulang, bunda janji kembali lagi ya', mereka melepas kami,
merengkuh tangan kami lalu disentuhkan kekening mereka, tanda takzim.
Lalu mereka berjanji untuk giat belajar, tidak akan nakal, santun dan
menggosok giginya sebelum tidur.
Wajah wajah hanief dan sholeh menyembul dibalik lilitan jilbab berenda.
Yang putih bermata hijau konon ada percikan darah Purtugis, yang kelam
turunan Tamil, beberapa nampak seperti Yamani atau Pakistan dan India
atau yang murni, tentu Melayu, lembut dan santun. Itulah anak anak Aceh.
***
Dengan berat hati dan perasaan nekad, kami tinggalkan Lhoong
kami harus ke Banda Aceh, sore itu juga, malam itu juga.
Kami berharap ada helikopter berkenan menerbangkan kami ke Banda.
Yang pertama adalah tentara Jerman yang salah mendarat, salah lokasi dikira Lokhsmawe...ternyata Lhoong.Kami tak terangkut.Kami sabar.
Banyak Heli menderu, lalu lalang tapi mereka cuma lewat.
Tiba tiba heli lain nampak rendah..oh bahkan dia turun menukik,
membuat hati berbunga penuh harap. Heli bermotif belang loreng
hijau coklat seragam Tentara. Saat mendarat kami yang duduk
terpental pental oleh kencangnya putaran baling baling dan kincir.
Nampak wajah kuning bermata sipit turun membongkok menurunkan
puluhan doos berisi panci dan kuali aluminium, tentu buat pengungsi.
Ditimbun dan disusun.
Kami dekati...mereka tentara Jepang atau Nipon. Ada bulatan merah,
bendera mini Jepang dilengannya. Merekapun berseragam tentara,
loreng hijau coklat dan hitam.
Sang kincir terhenti, pengungsi mengunjal dan mengangkutnya ke gudang
Lalu kamipun mencoba meminta kalau kalau bisa angkut kami ke Banda.
'No' sambil geleng geleng kepala.Kami ditolak lagi. Aku sebel dan kecewa.
Sang co-pilot sibuk mengeker sana sini, jepret sana dan sini.
Mungkin terperangah penuh pesona dengan cantiknya bukit bukit Lhoong
Dibanding dengan negerinya yang super sempit dan klastrofobia.
***
Kekedai kopi
Sambil bingung penuh harap kami duduk kembali dikedai kopi.
'Ibu..minta kopi dua ya' pintaku. 'tubruk atau saring? tanya si ibu.
'Saring bu...' kataku. Sang ibu menyiduk sang bubuk ke kuali kecil
lalu disiram, direbus dan disaring berkali kali, baru dituang ke gelas.
Aneh. Kali ini aku tak bisa menikmati kopi Aceh yang masyhur sedap.
Benakku gusar ingin balik ke Bandara sore itu dan harus malam itu.
' Teteh jangan pulang malam ini, ombak tinggi, anginnya kencang.
lewat darat sama bahaya, lewat bukit dan gunung, nanti tinggal nama'.
Aku tetap menggeleng kepala dan meyakinkan tidak apa apa.
Bang Nash, adik pak Camat terpaksa mencari sopir spit untuk mengayuh
sang perahu ke Bandara sore itu.Kamipun beranjak ke kepelabuhan...
Menyeberang
Baju pelampung warna oranye terang kami kenakan, speedboat putih
tak beratap kami naiki, tiga duduk didepan, tiga ditengah dan
tiga dibelakang, satu kapitan dan asisten paling belakang.
Semburat jingga senja, kekuningan memantul kelaut. Maghrib diambang.
Dari beberapa pohon nyiur yang tersisa ingin berceloteh, berteriak padaku,
' Kamilah yang tersisa, yang tegar dan mampu membendung Tsunami..teteh!
' Aku menyaksikan semuanya, tanyalah kami !'. Aku mengangguk setuju.
Tentu kalau mereka mampu bicara, merekapun akan berlomba bertutur padaku.
Diantara mereka ada satu yang miring dan merunduk sendu..sang pokok dan
daunnya hampir terjurai kelaut.
Atau puing puing dermaga, jembatan beton, kawat, pipa besi, kayu, bambu,
akar dan pokok yang tumbang terjungkal, lembar dan gulungan seng berkarat terhempas angin. Mereka tak ada daya, tak mampu melindungi pemiliknya mereka roboh oleh keKekariman Allah. Kuyakin mereka menangis, ingin bercerita sebagai saksi nyata tentang Tsunami yang dahsyat dan beringas.
Aku menoleh kebelakang...uhhh pilu hatiku, rata... tak tersisa, bongkah tanah
menganga. Sungguh gundah. Lalu aku menenggak keatas bukit...hatiku tambah luluh, anak anak yang kutinggal, anak anak yang ratusan dari balita hingga remaja, menanti dan menggantung harapan pada kita kita. Kalau tidak mereka jadi ajang kejaran dan lahan pemurtadan.
Teriak dan pesan mereka tetap terekam dan kubawa pulang :
'Bunda jangan pulang...bunda kembali lagi ya' lalu mereka melambaikan
tangannya. Pantulan mata mereka meninggalkan banyak pesan dan makna.
Aku terhenyak. Motor perahu spit meraung, asap solar merebak, perahu melaju.
Lhoong kami tinggalkan dengan penggalan kenangan mengiris namun manis
Mentari senja kini menyelinap dibalik awan, masuk peraduan,
kini tergantikan oleh rona rembulan - membututi kami.
Kami terus meluncur dibawah terangnya si molek rembulan.
***
Perjalanan ini terlalu nekad dan penuh petualangan memang.
Detik dan menit kuhitung - aku menunduk dan terdiam sambil
menahan percikan keras bulir bulir air laut, kadang curahan hujan.
Aku merunduk diam sambil berbisik dengan wiridan...
Ya Allah sebrangkan kami dengan kebesaranMu...
Tiba tiba sang motor terhenti, perahu berputar ditiup angin dan ombak
Kami saling memandang dan tersenyum dikegelapan dan menghibur diri
' Bentar lagi kita nyampe di Lok Nga Ummi' kata bang Nash,
huh hatipun merekah bahagia dan lega.
Sang sopir meraba dan menduga tepian pantai Lok Nga. Gelap pekat memang.
Sesekali kami lihat dari kejauhan gundukan hitam lewat, entah flipper, kayu hanyut entah sang mayat....aku tetap terdiam. Sang mesin mulai melaju lagi..
Dari jauh tampak sebuah gedung dengan terangnya yang ribuan watt,
'Itu kapal Induk Perancis' kata mereka. 'Yang Amerika sudah pulang'.
Betapa megahnya. Aku diam saja mendengarkan.
' Ahhh ini Lok Nga !', hati kami terasa lega. Kendati ini bukan pelabuhan
sang perahu merapat ketepian lalu menambatkan tali pada kayu
pepohonan kering yang ada. Kamipun loncat bersama ransel kami
lalu mendaki bukit berpasir. Saat kami berada diatas....subhanallah
sepertinya kami berada di padang pasir. Rata, gelap penuh puing puing
besi, pipa dan pepohonan yang tumbang terjungkal malang dan melintang.
Lama kami menanti di pos TNI. Tak lama kijang bak menjemput kami...
Saat kami tiba di pemondokan..Iin menyambut dan memelukku erat.
'Ya Allah teteh kau masih hidup...tiga hari kami mencarimu,
tiga hari kau menghilang, kau balik, alhamdulillah '.
Sementara sayup lamat pesan mereka kerap dan tetap terngiang,
'Bunda jangan pulang, bunda janji kembali lagi ya..'
Banda Aceh, 17 Februari 2005 (al-syahidah)
Terik siang itu ditambah beberapa masalah yang hadir tanpa diundang, baik urusan kantor maupun pribadi membuatku tidak semangat, termasuk pekerjaan yang biasanya kusuka, mengitari jalan-jalan kota.
Aku bagian dari sebuah keluarga, mengantarkan anak-anak kesekolah atau sekedar main termasuk tugasku. Walau diawali dengan bismillah, hati ini belum bisa tenang. Aku berangkat dengan setengah hati. Tak boleh memang, merenung sambil nyetir, tapi itulah yang sedang kulakukan.
Tiba-tiba lamunanku dipaksa berhenti, lampu merah itu telah mengundang seorang waria mendekati mobil yang kukendarai. Setengah dongkol kukibaskan tangan dan tampangku mungkin kusut sekali. Waria itu pergi bersungut-sungut, mungkin sambil memaki karena kulihat bibirnya bergerak tak bersahabat. Begitu juga aku "Uh, pemalas banget sih.. ga punya rasa syukur sama sekali, ngemis pula lagi!" Kata-kata itu mengalir dalam hati tanpa bisa ku rem sama sekali.
Di persimpangan berikutnya, kembali aku terhalang oleh lampu merah. Hatiku masih belum bisa kompromi walau telah banyak doa yang kulantunkan. Hingga akhirnya, ada seorang yang membawa kemoceng menyapukan kemocengnya ke kaca depan mobil. Kembali aku gerah.
Dengan gerakan yang sama seperti kepada waria tadi, kuisyaratkan untuk tidak meneruskan, tapi dia tak peduli. "Ah, biar saja... toh aku ga nyuruh kok!" Hatiku membatin. Ketika dia minta aku untuk membayar atas jasanya, aku pura-pura tidak mendengar. "Toh, aku ga minta kok". Dia pergi tanpa ekpresi. Lagi, dipersimpangan berikutnya.. lampu merah lagi ! Kali ini, dari kejauhan aku melihat dua anak berusia sekitar dua belas tahun menggendong seorang bayi sedang mengemis.
Entah kenapa, hatiku sangat yakin anak dalam gendongan itu bukan bayi mereka atau adik-adik mereka. Betapa teganya orang memperdagangkan anak di bawah umur. Kaca mobil ku turunkan perlahan, ingin mengamati dengan seksama kedua anak tadi. Ada rasa kesian bercampur kesal. Ah, apakah memang sulit sekali untuk hidup ?
Tiba-tiba sebuah alunan harmonika membuatku tersentak dari lamunan, renungan.. dan semua bisikan hati.
Seorang laik-laki kurus, berbaju kumal sedang melantunkan suara harmonikanya. Tak sadar aku terhanyut.. masalahku seakan melayang bersama alunan harmonikanya. Walaupun gitu, sepeser uang yang diharapkannya tak kunjung ku beri.. karena dari tadi, aku masih mempersoalkan cara mereka mencari nafkah.
Penolakanku dijawabnya dengan senyum sembari berkata "Semoga Allah memudahkan semua urusan Ibu". Suara itu terdengar begitu tulus.. Ketika tanganku berusaha merogoh uang di kantong dia telah berlalu seiring lampu hijau yang menyala. Tetes air mata tiba-tiba meleleh.. Aku menyesal. "Haruskah keikhlasan dibatasi oleh banyak alasan ?" Uang itu masih ku genggam ditangan.
Andai aku bisa kembali dan memberikannya, tapi saat itu tidak mungkin karena jalan yang kulalui satu jalur. Senyum dan doa itu begitu tulus.. Hatiku perih, betapa egoisnya aku, hanya memikirkan masalah yang kuhadadapi. Bagaimana dia ? Mungkin bibirnya sudah penat dari tadi meniup harmonika ditambah rasa haus diterik siang, tapi bibir itu masih lentur digerakkan untuk tersenyum.
Mungkin putera-puterinya sedang menunggu uang yang dikumpulkannya untuk membayar SPP atau mungkin bayinya sedang haus kehabisan susu. Ah..... Sementara aku, ma sih bisa berleha-leha di sebuah mobil ber-ac. Betapa tidak bersyukurnya aku.
Doanya mungkin diijabah, masalahku seakan terselesaikan begitu saja. "Ya Rabb, ampuni hamba-Mu.Beri aku kesempatan untuk jadi seorang pecinta,seperti cinta yang Kau tebarkan pada seluruh makhluk-Mu."
"Ikhlas itu mencakup dua hal, yaitu menyertakan niat dan membebaskannya dari berbagai noda" (Dr. YusufQhardawy)'
UJUNG bucket ekskavator yang seperti sendok besar yang
dioperasikan Azmi Umur (27) menggaruk tumpukan puluhan
tubuh tak bernyawa di samping sebuah lubang kuburan.
Bau busuk seakan tidak mengganggu Azmi, warga Desa
Kuta Cot Glie, Kecamatan Indrapuri, Aceh Besar, yang
sedang mengoperasikan ekskavator.
Masker tipis putih itu tidak selalu dipasang untuk
menutup hidung dan mulutnya. Kadang dia membiarkannya
menggantung di leher.
Di lokasi kuburan massal Lambaro, Aceh Besar, di
pinggir jalan raya antara Blang Bintang dan Banda Aceh
itu sudah dikuburkan setidaknya 14.000 mayat korban
tsunami. Azmi bersama lima warga lain sehari-hari
menjadi pengubur ribuan mayat korban tsunami.
Sebagai warga Nanggroe Aceh Darussalam (NAD), mereka
terkadang tak percaya dengan apa yang telah
dilakukannya. Kala pertama kali menggerakkan
ekskavatornya menggaruk tumpukan mayat, Irwan (20)
mengaku merinding dan ketakutan.
Namun, seiring dengan waktu, mereka seolah menjadi
terbiasa meski masih sering timbul perasaan masygul
dan berdosa. "Banyak kerabat saya yang menjadi korban
tsunami. Dalam tumpukan mayat itu mungkin saja salah
satunya kerabat saya. Tetapi, saya harus
menguburkannya dengan cara seperti itu, kadang
perasaan bersalah itu muncul," kata Azmi.
Untuk mengurangi perasaan berdosa, sebelum menguburkan
mayat-mayat itu, mereka membaca doa sebisanya. "Niat
kami membantu, semoga kami tidak dianggap berdosa
karena mengubur mayat dengan cara ini," katanya.
TIDAK terbayangkan sebelumnya oleh Azmi, Irwan, Adi,
dan tiga temannya yang lain bahwa mereka harus menjadi
penggali kubur serta menguburkan beribu-ribu mayat,
yang mungkin salah satunya merupakan saudara, kerabat,
atau teman mereka sendiri.
Sebagai operator ekskavator, Azmi sudah harus berada
di lokasi proyek setiap pukul 08.00, karena perannya
sangat penting di antara puluhan pekerja lain dalam
proyek pembangunan Jalan Uton di Desa Batoh, Lueng
Bata, Aceh Besar.
Ketika sedang asyik bekerja, Minggu pagi tanggal 26
Desember 2004, tiba-tiba gempa yang sangat kuat
terjadi. Mereka pun menjadi panik. "Setelah gempa,
tiba-tiba orang sudah ramai di jalan berlari ke arah
Lambaro (di selatan Banda Aceh). Katanya air naik,"
tutur Azmi.
Dia pun segera turun dari alat berat yang
dikendalikannya dan bergegas menghidupkan sepeda
motor, lalu melarikannya ke arah selatan menuju Gunung
Seulawah. "Waktu itu yang terpikir hanya rumah. Saya
langsung pulang," kata Azmi.
Setibanya di rumah, ternyata rumah panggung milik
orangtuanya tidak mengalami kerusakan apa pun
pascagempa. Hari itu, dia memutuskan untuk tidak
kembali ke proyek karena khawatir gempa susulan akan
terjadi lagi. "Hanya (gempa) itu yang saya takutkan.
Karena orangtua sudah uzur, kasihan kalau mereka
ditinggal," katanya.
Waktu itu, dia belum menyadari gelombang tsunami telah
meluluhlantakkan Banda Aceh. Azmi baru mengetahuinya
setelah menonton televisi, Minggu malam.
Senin pagi, dia kembali ke lokasi proyek. Setibanya di
sana hanya sebagian pekerja yang sudah datang. Sisanya
tidak terlihat sampai sekitar pukul 10.00. Karena
pekerjaan tidak bisa berlangsung normal, dia pun
memutuskan beristirahat. Tak lama kemudian, mandor
lapangan yang juga belum datang meneleponnya meminta
Azmi dan Adi (operator ekskavator lain) membawa alat
berat mereka ke Jalan Blang Bintang-Lambaro.
"Saya bingung untuk apa, soalnya di sana tidak ada
proyek jalan. Tetapi namanya perintah, saya menurut
saja," ujarnya.
Setibanya di lokasi yang ditunjukkan, dia melihat
banyak tumpukan bungkusan plastik hitam dan jingga
berukuran besar. Tumpukan tersebut mengeluarkan bau
busuk.
Waktu itu, mereka baru mengetahui tugasnya sejak saat
itu berubah dari pengangkut pasir dan batu ke atas
truk menjadi penggali kubur untuk tempat
peristirahatan terakhir korban tsunami di Banda Aceh
dan Aceh Besar. Tidak tanggung-tanggung, mereka harus
mengubur ribuan mayat yang ditemukan di lokasi
bencana. "Hari pertama itu, saya bekerja sampai pukul
sebelas malam. Selesai waktu itu, pulangnya, saya
tidak berani tidur sendirian," kenangnya.
Hari kedua, sebelum pergi ke Lambaro, Azmi singgah ke
rumah seorang tengku imam di kampungnya, meminta
penjelasan soal penguburan massal menggunakan alat
berat yang sedang dikerjakannya. "Soalnya, saya takut
menyalahi aturan agama. Kan kalau mengubur itu,
jenazahnya harus menghadap kiblat. Kalau jumlahnya
banyak seperti ini dan menguburnya pakai back hoe,
mana mungkin lagi kita menyusun mereka di dalam
liang," paparnya.
Menurut tengku itu, kata Azmi mengulang kata tengku
imam, korban tsunami meninggal dalam syahid sehingga
proses penguburannya disesuaikan dengan keadaan.
Pengakuan serupa dikemukakan Irwan. Beberapa kali dia
sempat tidak tega atau merasa berdosa saat menguburkan
mayat dengan alat berat. Dan sebelum kembali mengubur
mayat, dia bertanya kepada seorang tengku imam yang
dia anggap paham soal agama Islam yang dianutnya.
Ternyata, tengku imam itu menjelaskan bahwa apa yang
dilakukan Irwan dan teman-temannya tidaklah menyalahi
aturan agama. "Justru kami akan berdosa jika tidak
menyegerakan penguburan mayat-mayat yang telah
ditemukan itu," katanya.
Sejak itu, dia pun semakin meneguhkan hati bahwa apa
yang dikerjakannya merupakan ibadah. "Imam bilang,
saya justru akan berdosa jika tidak menguburkan
mayat-mayat itu. Mayat tersebut akan mengotori dan
jika tidak dikuburkan akan berakibat tidak baik untuk
korban yang masih hidup. Akhirnya, saya bertekad
mengubur mayat-mayat yang terus berdatangan itu,"
katanya.
Irwan, yang sebelumnya bekerja di proyek pembuatan
jalan, tidak tahu lagi berapa mayat yang sudah
dikuburkannya. Mungkin sudah beribu-ribu jenazah
karena setiap hari datang ratusan mayat yang harus
dikuburkannya, diangkut dengan truk bak terbuka.
PADA hari pertama dan kedua, mayat yang dievakuasi ke
Lambaro untuk dikuburkan massal berjumlah lebih dari
5.000 orang. Dua back hoe yang ada segera menggali
liang selebar 2 meter, sedalam sekitar 2 meter, dan
memanjang ke samping sekitar 10 meter.
Menurut Irwan, memasuki pekan keempat setelah bencana
tsunami, kuburan massal di Lambaro tersebut telah
berisi sedikitnya 14.000 mayat. Hingga saat ini,
setiap hari, Azmi, Irwan, Adi, dan tiga orang lainnya
terus menggali liang dan menutupnya kembali setelah
ratusan hingga ribuan mayat dikuburkan.
Meski menganggap pekerjaan itu ibadah, Irwan dan
teman-temannya mengaku tetap takut dengan wabah
penyakit yang bersumber dari mayat. Apalagi dalam
bekerja, para operator back hoe tersebut tak dibekali
perlengkapan masker dan pakaian tertutup berstandar
kesehatan untuk mencegah mereka tertular penyakit.
Perlengkapan para penggali kubur itu hanya masker
putih tipis dan sarung tangan karet yang hanya menutup
hingga lengan. Terkadang, kalau sudah terlalu sibuk
dengan banyaknya kiriman mayat, mereka tidak lagi
menghiraukan pemakaian masker. Masker tersebut hanya
menggantung saja di leher karena gerah.
Yang pasti, hingga memasuki pekan keempat
pascatsunami, kiriman mayat-mayat masih saja terus
berdatangan. Ribuan mayat diperkirakan belum sempat
dievakuasi atau dikubur. Mayat yang dievakuasi Tentara
Nasional Indonesia maupun relawan sekarang ini sekitar
3.000 per hari.
Dari data Posko Satuan Koordinasi Pelaksana
Penanggulangan Bencana NAD, saat ini sedikitnya 81.000
korban tsunami sudah dikuburkan. Namun, dari data yang
sama, ada sekitar 131.000 warga NAD korban tsunami
yang masih hilang. Mereka ini mungkin selamat dan
menjadi pengungsi, atau mungkin juga menjadi korban
tsunami.
Entah sampai kapan Azmi dan rekan-rekannya terus
menguburkan korban-korban tsunami. (prasetyoekop/hamzirwan)
Si ibu terdia, sejenak, "Sakit sekali, aku tahu anakku. Tetapi terimalah itu sebagai takdir alam. Kuatkan hatimu. Jangan terlalu lincah lagi. Kerahkan semangatmu melawan rasa ngilu dan nyeri yang menggigit. Balutlah pasir itu dengan getah perutmu. Hanya itu yang bisa kau perbuat", kata ibunya dengan sendu dan lembut.
Anak kerang pun melakukan nasihat bundanya. Ada hasilnya, tetapi rasa sakit bukan alang kepalang. Kadang di tengah kesakitannya, ia meragukan nasihat ibunya. Dengan air mata ia bertahan, bertahun-tahun lamanya. Tetapi tanpa disadarinya sebutir mutiara mulai terbentuk dalam dagingnya. Makin lama makin halus. Rasa sakit pun makin berkurang. Dan semakin lama mutiaranya semakin besar. Rasa sakit menjadi terasa lebih wajar.
Akhirnya sesudah sekian tahun, sebutir mutiara besar, utuh mengilap, dan berharga mahal pun terbentuk dengan sempurna. Penderitaannya berubah menjadi mutiara; air matanya berubah menjadi sangat berharga. Dirinya kini, sebagai hasil derita bertahun-tahun, lebih berharga daripada sejuta kerang lain yang cuma disantap orang sebagai kerang rebus di pinggir jalan.
Cerita di atas adalah sebuah paradigma yg menjelaskan bahwa penderitaan adalah lorong transendental untuk menjadikan "kerang biasa" menjadi "kerang luar biasa". Karena itu dapat dipertegas bahwa kekecewaan dan penderitaan dapat mengubah "orang biasa" menjadi "orang luar biasa".
Banyak orang yang mundur saat berada di lorong transendental tersebut, karena mereka tidak tahan dengan cobaan yang mereka alami. Ada dua pilihan sebenarnya yang bisa mereka masuki: menjadi `kerang biasa' yang disantap orang, atau menjadi `kerang yang menghasilkan mutiara'. Sayangnya, lebih banyak orang yang mengambil pilihan pertama, sehingga tidak mengherankan bila jumlah orang yang sukses lebih sedikit dari orang yang `biasa-biasa saja'.
Mungkin saat ini kita sedang mengalami penolakan, kekecewaan, patah hati, atau terluka karena orang-orang di sekitar kamu cobalah utk tetap tersenyum dan tetap berjalan di lorong tersebut, dan sambil katakan di dalam hatimu.. "Airmataku diperhitungkan Tuhan.. dan penderitaanku ini akan mengubah diriku menjadi mutiara."



bravenet.com